cover
Contact Name
Khairuddin
Contact Email
khairuddinazka15@gmail.com
Phone
+6282286180987
Journal Mail Official
dampengartheritage@gmail.com
Editorial Address
Tanah Bara
Location
Kab. aceh singkil,
Aceh
INDONESIA
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture
ISSN : 30896657     EISSN : 30899753     DOI : 10.70742/dampeng
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture (ISSN-P 3089-6657 ; ISSN-E 3089-9753) is a double-blind peer-reviewed journal published by Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara, Indonesia. This journal publishes research articles and conceptual papers in the fields of art, heritage, and culture (see Focus and Scope). All submissions are reviewed by experts in their respective fields, and each article includes abstracts in both English and Indonesian. Submitted manuscripts must demonstrate scholarly achievement or novelty relevant to the journal’s focus. All texts must be free from plagiarism, and authors are strongly encouraged to use plagiarism detection software to ensure a similarity index below 25%. Please note that the journal only accepts manuscripts written in either Indonesian or English. The journal is published four times a year, in February, May, August, and November.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Membangun Generasi Moderat melalui Peran Sinergis Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat dalam Pendidikan Berbasis Budaya Nurhikmah Nurhikmah
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 1 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i1.160

Abstract

Pendidikan berbasis budaya memiliki peran strategis dalam membentuk generasi moderat yang memiliki pemahaman agama yang inklusif serta mampu hidup harmonis dalam keberagaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran sinergis keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membangun generasi moderat. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga memiliki peran utama dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama sejak dini melalui pola asuh yang berbasis kasih sayang dan keterbukaan. Sekolah turut berkontribusi melalui kurikulum yang menekankan kebhinekaan dan pendidikan karakter, sedangkan masyarakat membentuk lingkungan sosial yang mendukung keberagaman dan toleransi. Sinergi antara ketiga elemen ini sangat diperlukan untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga berkarakter inklusif dan toleran.
Komparasi Term "Mati" Dalam Al-Qur’an Dan Bible: Analisis Berdasarkan Teori Ferdinand De Saussure Achmad Dafid Imron Sadali
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 1 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i1.161

Abstract

Penelitian ini mengkaji perbandingan makna term "mati" dalam Al-Qur'an dan Bible menggunakan teori linguistik Ferdinand de Saussure. Fokus analisis terletak pada aspek penanda (signifier) dan petanda (signified) dari term "mati" dalam kedua kitab suci tersebut. Metodologi yang digunakan adalah studi kualitatif dengan pendekatan linguistik struktural, menggunakan data primer dari ayat-ayat yang mengandung term "mati" dalam Al-Qur'an dan Bible, serta data sekunder dari berbagai tafsir dan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa term "mati" dalam Al-Qur'an ??? dan ???? dan Bible (Nekros dan Muth/Mavet) memiliki perbedaan signifikan dalam aspek penanda yang dipengaruhi oleh karakteristik bahasa Arab, Yunani, dan Ibrani. Dari segi petanda, Al-Qur'an menekankan makna kematian sebagai bagian dari takdir dan transisi menuju alam barzakh, sementara Bible mengaitkannya dengan konsekuensi dosa dan pengharapan akan kebangkitan menuju kehidupan kekal. Perbedaan ini mencerminkan variasi pandangan teologis antara Islam dan Kristen mengenai konsep kematian, sekaligus menunjukkan bagaimana makna kematian dibentuk oleh konteks sosial, budaya, dan nilai keagamaan masing-masing tradisi
Inovasi Kurikulum dan Pembelajaran di Era Society 5.0 Indrian Saputra
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 1 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i1.162

Abstract

Transformasi pendidikan Islam di Indonesia di era Society 5.0 sangat penting untuk mengikuti perkembangan teknologi seperti IoT, big data, dan AI yang telah merambah pendidikan. Meski demikian, penelitian tentang integrasi nilai-nilai Islam dengan teknologi dalam kurikulum masih terbatas. Artikel ini menawarkan solusi kreatif melalui pendekatan multidisipliner dan metode pembelajaran berbasis teknologi, seperti gamifikasi, adaptif, dan blended learning. Dengan adopsi teknologi modern yang tetap menjaga nilai-nilai Islam, pendidikan Islam dapat mencetak generasi cerdas dan berakhlak mulia, serta relevan dengan kebutuhan era modern.
Analysis of Aid Distribution and Mitigation of the Causes of Flood Disasters in Karangnanas Village Nabila Syifa; Umi Haniati
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 1 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i1.181

Abstract

This study analyzes the distribution of aid and mitigation of the causes of flood disasters in Karangananas Village, Sokaraja District, Banyumas Regency. The purpose of this study is to analyze the extent to which aid provided to flood victims has been distributed and to examine the main causes of flooding in the village. In addition, this study also aims to compile mitigation steps that can be taken to prevent similar disasters in the future. This study uses a qualitative descriptive method with in-depth interviews, direct observation, library studies and through Pusdalops data at the Banyumas Regency BPBD. The factors causing flooding in Karangnanas Village consist of very high rainfall, poor drainage infrastructure, and uncontrolled land conversion. Therefore, preventive measures that can be taken include improving drainage infrastructure, building water storage, improving the management of green open spaces, and increasing public awareness of the importance of preserving the environment.
Sepikul Segendongan: Budaya Hukum Kewarisan Adat Jawa Masyarakat Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah Mastri Imammusadin
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 1 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i1.184

Abstract

Abstract: This article is a comprehensive study of the concept of sepikul segendongan as a Javanese customary inheritance mechanism that determines the two-to-one inheritance rate for sons and daughters. This study aims to assess the existence of the concept of sepikul segendongan in the present era and its relevance to the development of modern Javanese society. This research is an empirical study with a socio-legal approach, through inductive field studies with participatory observation and in-depth interviews to obtain primary data, while secondary data is obtained through literature studies. Data analysis coincided with data collection to find the formulation of specific questions in the interview. The results of this study indicate that the concept of inheritance of sepikul segendongan is a Javanese customary inheritance concept derived from Islamic law, as stipulated in QS. An-Nisa verse 11, but in the current era the community has actually begun to abandon the concept, because it is considered irrational for several reasons. First, the concept is considered not to reflect mathematical justice. Secondly, most respondents did not know that the concept was an implementation of Islamic law. Third, the concept is seen as an outdated custom, and is no longer relevant to the individual rights of each heir.
Tradisi Menyikhang Tendi: Ekspresi Budaya atas Duka Cita di Kampong Tanah Bara, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil Khairuddin Khairuddin; Herlina Sahpitri
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 2 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i2.200

Abstract

The Menyikhang Tendi tradition is a hereditary custom passed down from ancestors to the present generation. The meaning of the term is metaphorical; it serves as an expression of longing and profound sorrow over the loss of a loved one. This study aims to examine: (1) the community’s interpretation of the Menyikhang Tendi tradition in Tanah Bara Village, Gunung Meriah District, Aceh Singkil Regency; and (2) the actual practice of the Menyikhang Tendi tradition in the local context. This research employs a qualitative method using interviews, observations, and documentation. Data analysis was conducted through data collection, data presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that: (1) the symbolic meaning of the Menyikhang Tendi tradition is to help the grieving family of the deceased not fall into deep and prolonged sorrow; and (2) the ritual is usually performed after the Islamic funeral rites—bathing, shrouding, and before the burial. The body is brought to the front yard of the house, where the community gathers to listen to a speech by an imam or ustadz, who conveys an apology on behalf of the deceased. Afterward, the family of the deceased walks underneath the coffin in seven clockwise rotations, starting from the left side, without looking upward and wearing a head covering or long cloth as a sign of respect and spiritual humility. Keywords: Menyikhang Tendi, local tradition, Aceh Singkil, Islamic funeral, cultural grief expression, symbolic procession Abstrak: Tradisi Menyikhang Tendi merupakan kebiasaan turun-temurun yang diwariskan dari para leluhur hingga generasi saat ini. Istilah ini memiliki makna kiasan, yakni sebagai ungkapan rasa rindu dan duka yang mendalam atas kepergian orang yang dicintai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji: (1) bagaimana pemaknaan masyarakat terhadap tradisi Menyikhang Tendi di Kampung Tanah Bara, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil; dan (2) bagaimana praktik tradisi Menyikhang Tendi dilakukan dalam konteks lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahap pengumpulan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) makna simbolik dari tradisi Menyikhang Tendi adalah untuk membantu keluarga almarhum agar tidak terlalu larut dalam kesedihan yang mendalam; dan (2) praktik ritual ini biasanya dilakukan setelah kewajiban keagamaan terhadap jenazah dilaksanakan, seperti memandikan dan mengkafani. Jenazah kemudian dibawa ke halaman depan rumah, tempat masyarakat berkumpul untuk mendengarkan ceramah dari imam atau ustaz yang menyampaikan permohonan maaf atas nama almarhum. Setelah itu, keluarga almarhum berjalan di bawah keranda jenazah sebanyak tujuh kali putaran searah jarum jam, dimulai dari sisi kiri. Selama prosesi ini, tidak diperbolehkan melihat ke atas dan wajib mengenakan penutup kepala atau kain panjang sebagai bentuk penghormatan dan kerendahan hati secara spiritual. Kata kunci: Menyikhang Tendi, tradisi lokal, Aceh Singkil, pemakaman Islam, ekspresi budaya duka, prosesi simbolik.
Singkil dalam Lintasan Sejarah: Identitas Wilayah dan Asal Usul Etnisnya A. Aslym Combih
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 2 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i2.202

Abstract

This study aims to trace the origins of the ethnic groups and the various designations of the indigenous peoples inhabiting the Aceh Singkil and Subulussalam regions, as well as to examine the historical processes of migration and assimilation that have shaped their cultural identity. Employing historical research methods, the study follows the stages of heuristics, source verification, interpretation, and historiography. The findings reveal that the name "Singkil" has been known since the 15th century, with various spellings recorded by historical figures such as Tom Pires, Petrus Plancius, and Sheikh Abdur Rauf as-Singkily. To this day, diverse terms are used to refer to the indigenous ethnic group and their language, including Singkil Tribe, Julu Tribe, Orang Hulu, Pakpak Boang, and Kade-kade Language. Historical and anthropological evidence suggests significant physical and cultural similarities between the Singkil people and other ethnic groups such as Batak, Karo, Gayo, Alas, Kluet, and Pakpak, all of whom are believed to share a common ancestry rooted in prehistoric Austro-Melanesoid migrants. Furthermore, centuries of interaction and intermarriage with other ethnic groups—including the Minangkabau, Nias, Acehnese, Indians, and Arabs—have enriched the cultural identity of the Singkil people. Islamic cultural influences, introduced by figures such as Sheikh Abdur Rauf and Hamzah Fansuri, are also believed to have originated from Arab lineages.  Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri asal-usul etnis dan penamaan suku asli yang mendiami wilayah Kabupaten Aceh Singkil dan Subulussalam, serta menelusuri proses sejarah migrasi dan asimilasi yang membentuk identitas kultural masyarakat setempat. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah, penelitian ini melalui tahapan heuristik, verifikasi sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nama “Singkil” telah dikenal sejak abad ke-15, dengan berbagai varian penulisan oleh tokoh-tokoh sejarah seperti Tom Pires, Petrus Plancius, dan Syeikh Abdur Rauf as-Singkily. Nama dan identitas etnis masyarakat asli Singkil hingga kini masih menunjukkan keberagaman penyebutan, seperti Suku Singkil, Suku Julu, Orang Hulu, Pakpak Boang, hingga Bahasa Kade-kade. Temuan historis dan antropologis menunjukkan adanya kesamaan fisik dan budaya antara suku Singkil dengan etnis Batak, Karo, Gayo, Alas, Kluet, dan Pakpak, yang diduga berasal dari satu rumpun manusia purba Austro-Melanesoid yang bermigrasi sejak masa prasejarah. Selain itu, proses percampuran budaya dengan pendatang seperti Minangkabau, Nias, Aceh, Arab, dan India telah memperkaya identitas kultural masyarakat Singkil, termasuk dalam hal penyebaran Islam oleh tokoh-tokoh seperti Syeikh Abdur Rauf dan Hamzah Fansuri. Kata kunci: Singkil, migrasi Austro-Melanesoid, etnis Batak, sejarah lokal
Warisan Budaya Melayu pada Manuscript “Risalah Perhiasan perempuan pada Anak-anak Perempuan” Masa Kesultanan Lingga-Riau Abad XX Dhana Alfia Melati; Dimas Puja Kusuma; Fajar Firdaus; Uswatun Hasanah
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 2 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i2.204

Abstract

This article aims to revisit the ancient manuscript titled ‘Risalah Perhiasan bagi Anak-anak Perempuan’ from the 20th century Lingga=Riau Sultanate. The Manuscript contains teachings on ethics and morals for women, especially those who have reached puberty or adolescent age, which are reinforced with verses from the Qur’an. This research employs historical methods with four stages: Heuristics, Source criticism, Interpertation, and historiography. The primary source used is the ancient manuscript ‘Risalah perhiasan Perempuan pada Anak-anak Perempuan’ obtained throught the british library website. The findings of this study reveal that the manuscript, originating from the Lingga-Riau Sultanate, discusses not only how women adom themselves with jewelry, but also emphasizes that jewelry signifies more than wealth; it pertains to behavior, morality, and women’s obedience to Allah SWT. in addition, the manuscript serves as a medium for moral and spiritual education for women in shaping an Islamic character for the Riau communitu to this day. Therefore, it is quite natural that Riau is one of the regions in Indonesia tat still strongly adheres to malay culture. The studi of this manuscript is importans to understand women in Malay culture and the formation of women’s indentity, aswell as how Islmic values are internalized daily life through traditional literary works. Key word: manuscript, Culture heritage of the Malay, Sultanate of Lingga-Riau.   Abstrak:  Artikel ini bertujuan mengkaji naskah kuno yang berjudul “Risalah Perhiasan bagi Anak-anak Perempuan” pada masa Kesultanan Lingga-Riau abad ke-20. Naskah tersebut memuat ajaran tentang etika dan moral bagi perempuan khususnya yang telah memasuki usia baligh atau remaja yang dikuatkan dengan dalil-dalil al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan empat tahapan. Yaitu Heuristik, Kritik Sumber, Interprestasi, dan Historiografi. Sumber primer yang digunakan adalah Naskah kuno “Risalah Perhiasan Perempuan pada anak Perempuan” yang didapat melalui website British Library. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa pada naskah yang berasal dari sebuah Kesultanan Lingga-Riau ini tidak hanya membahas mengenai bagaimana perempuan dalam mengenakan perhiasan, perhiasan tidak hanya bermakna sebagai sebuah harta melainkan mengenai perilaku, akhlak dan ketaatan peremuan kepada Allah SWT. selain itu, naskah tersebut berperan sebagai media pendidikan moral dan spiritual bagi perempuan dalam membentuk karakter Islami bagi masyarakat Riau hingga saat ini. Sehingga wajar sekali jika Riau adalah salah satu wilayah Indonesia yang masih sangat kental dengan budaya Melayu. Kajian terhadap naskah ini menjadi penting untuk memahami perempuan dalam budaya melayu dan pembentukan identitas perempuan serta bagaimana nilai-nilai keislaman diinteralisasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui karya sastra tradisional. Kata kunci: Manuscript, Warisan Budaya Melayu,  Kesultanan Lingga-Riau.
Rekonstruksi Historis Kepercayaan Hindu di Sumatera Bagian Selatan melalui Arca dan Akulturasi Arsitektual Agus Mahfudin Setiawan; Itsna Rahmatillah; Siti Muntamah
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 2 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i2.222

Abstract

This research discusses the entry and development of Hindu beliefs in Southern Sumatra through the study of cultural heritage in the form of statues and architectural elements of buildings. Although the influence of Buddhism was more dominant in this region, mainly due to the hegemony of the Srivijaya Kingdom, Hindu influence is still present and can be traced through artifacts that are still preserved today. Some of the important relics analyzed in this study include the statue of Lord Vishnu, the statue of Dewi Sri, and the architectural elements of the Sultan Mahmud Badaruddin II Mosque which show acculturation with Hindu symbols. This research uses historical methods with heuristic stages, source criticism, interpretation, and historiography, and is equipped with iconographic analysis to reveal the symbolic meaning in these artifacts. The purpose of this research is to reconstruct the Hindu belief system that has developed in Southern Sumatra based on the traces of existing material culture. The results show that although Hinduism is not the main faith, the religious and symbolic values of Hinduism remain influential in the local cultural heritage, thus enriching the historical treasures and cultural identity of the region. Abstrak: Penelitian ini membahas masuk dan berkembangnya kepercayaan Hindu di Sumatera Bagian Selatan melalui kajian terhadap peninggalan budaya berupa arca dan unsur arsitektur bangunan. Meskipun pengaruh agama Buddha lebih dominan di wilayah ini, terutama karena hegemoni kekuasaan Kerajaan Sriwijaya, namun pengaruh Hindu tetap hadir dan dapat ditelusuri melalui artefak yang masih lestari hingga saat ini. Beberapa peninggalan penting yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi arca Dewa Wisnu, arca Dewi Sri, serta unsur arsitektural pada Masjid Sultan Mahmud Badaruddin II yang menunjukkan akulturasi dengan simbol-simbol Hindu. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, serta dilengkapi dengan analisis ikonografis untuk mengungkap makna simbolik dalam artefak-artefak tersebut. Tujuan penelitian ini adalah merekonstruksi sistem kepercayaan Hindu yang pernah berkembang di Sumatera Bagian Selatan berdasarkan jejak budaya material yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Hindu tidak menjadi kepercayaan utama, namun nilai-nilai religius dan simbolik dari kepercayaan Hindu tetap berpengaruh dalam warisan budaya lokal, sehingga memperkaya khazanah sejarah dan identitas kebudayaan di wilayah ini. Kata kunci: Hindu, Sumatera Bagian Selatan, Arkeologi, Sejarah, Ikonografi, Arca, Akulturasi Budaya
Rumah Gadang Mande Rubiah South Coast of West Sumatra: Between Religious Tourism, The Museum of The Heritage of Bundo Kanduang and A Sacred Place Ahmad Putra; Syaiful Adnan; Joni Indra Wandi; Yulia Fitria; Nora Afnita; Bayu Pramesta
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 2 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i2.243

Abstract

This research is motivated by the increasing number of tourists visiting Rumah Gadang Mande Rubiah, where Rumah Gadang Mande Rubiah is one of the real witnesses to the extraordinary struggle of the predecessors and the existence of the history of Bundo Kanduang in the past. Today, this historical witness is not just a location for religious tourism, but also stores historical relics that are still preserved to this day. In addition, it is said that there are still mystical things that are believed to still be stored and believed to exist. This means that Rumah Gadang Mande Rubiah can be said to be a sacred place so that it is interesting to trace the history stored in it. In tracing the uniqueness and important things in this study, the researcher used the library research method, where the author collected materials through journals, books, writings related to the issues discussed. The purpose of the research that the author made was to reintroduce the history of Rumah Gadang Mande Rubiah to the general public, both in the South Coast of West Sumatra and on a national scale, where Rumah Gadang Mande Rubiah stores interesting things and provides knowledge of a history that is useful to be studied again. In addition, the researcher also discussed this research with the aim of making the younger generation interested in tracing, rereading history, and seeing the struggles of their predecessors in fighting for a culture, customs and values ??of togetherness whose physical evidence can still be witnessed today. Abstrak: Penelitian ini dilatar belakangi dengan meningkatnya wisatawan yang berkunjung ke Rumah Gadang Mande Rubiah, yang mana Rumah Gadang Mande Rubiah menjadi salah satu saksi nyata akan luar biasanya perjuangan para pendahulu dan keberadaan sejarah Bundo Kanduang tempo dulu. Hari ini, saksi sejarah tersebut bukan sekedar lokasi untuk wisata religi saja, namun juga menyimpan peninggalan-peninggalan bersejarah yang masih terjaga sampai saat ini. Di samping itu, konon masih tersimpan hal-hal mistis yang dipercaya masih tersimpan dan dipercayai keberadaannya. Artinya, Rumah Gadang Mande Rubiah dapat dikatakan tempat yang sakral sehingga menarik bila menelusuri sejarah yang tersimpan di dalamnya. Dalam menelusuri keunikan dan hal penting dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode library research, dimana penulis mengumpulkan bahan melalui jurnal, buku-buku, tulisan-tulisan yang berkaitan dengan persoalan yang dibahas. Tujuan dari penelitian yang penulis buat ialah mengenalkan kembali sejarah Rumah Gadang Mande Rubiah kepada khalayak ramai baik yang ada di Pesisir Selatan Sumatera Barat maupun skala Nasional, di mana Rumah Gadang Mande Rubiah menyimpan hal-hal menarik dan memberikan pengetahuan akan sebuah sejarah yang bermanfaat untuk kembali dipelajari. Di samping itu, penelitian ini peneliti bahas juga bertujuan agar para generasi muda tertarik menelusuri, membaca kembali sejarah, dan melihat perjuangan para pendahulu dalam memperjuangkan sebuah budaya, adat serta nilai-nilai kebersamaan yang bukti fisiknya masih bisa disaksikan sampai hari ini. Kata Kunci: Rumah Gadang, Mande Rubiah, Sejarah

Page 1 of 2 | Total Record : 18