Penggunaan perangkat digital yang intensif di kalangan anak usia sekolah memicu peningkatan risiko gangguan mata. Penelitian bertujuan mengidentifikasi tanda dan gejala, menghitung prevalensi berdasarkan karakteristik demografis, menganalisis faktor risiko, serta menelaah hubungan antara Computer Vision Syndrome (CVS) dengan kelainan refraksi miopia pada anak. Penelitian menggunakan metode kajian literatur (literature review). Data dari berbagai database elektronik ilmiah bereputasi berfokus pada populasi anak usia 8–18 tahun. Data disintesis dan dianalisis secara deskriptif komparatif. Temuan utama menunjukkan prevalensi CVS anak usia sekolah mencapai lebih dari 60%, dengan keluhan paling dominan berupa mata lelah, mata merah, penglihatan kabur, dan sakit kepala. Faktor risiko signifikan meliputi durasi screen time yang panjang, posisi duduk yang tidak ergonomis, dan pencahayaan buruk. Karakteristik individu memengaruhi variasi keluhan, laki-laki cenderung lebih banyak melaporkan gejala akut. Sintesis data juga menegaskan bahwa miopia tidak berhubungan secara kausal langsung sebagai penyebab CVS, melainkan kondisi sekunder yang dapat diperparah oleh kebiasaan penglihatan yang buruk saat menatap layar. CVS pada anak memberikan dampak fisiologis dan psikologis yang nyata. Implikasi potensial dari hasil penelitian ini menekankan pentingnya intervensi dini berbasis edukasi kesehatan mata. Direkomendasikan bagi orang tua, pendidik, dan praktisi optometri untuk menerapkan aturan ergonomi dan pembatasan durasi layar seperti metode 20-20-20, serta menggalakkan pemeriksaan mata berkala sejak dini.
Copyrights © 2026