p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Sehat Masada
Motris Pamungkas
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO COMPUTER VISION SYNDROME PADA ANAK Anggit Nugroho; Motris Pamungkas; Feranita Alisha Hendra
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 2 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan perangkat digital yang intensif di kalangan anak usia sekolah memicu peningkatan risiko gangguan mata. Penelitian bertujuan mengidentifikasi tanda dan gejala, menghitung prevalensi berdasarkan karakteristik demografis, menganalisis faktor risiko, serta menelaah hubungan antara Computer Vision Syndrome (CVS) dengan kelainan refraksi miopia pada anak. Penelitian menggunakan metode kajian literatur (literature review). Data dari berbagai database elektronik ilmiah bereputasi berfokus pada populasi anak usia 8–18 tahun. Data disintesis dan dianalisis secara deskriptif komparatif. Temuan utama menunjukkan prevalensi CVS anak usia sekolah mencapai lebih dari 60%, dengan keluhan paling dominan berupa mata lelah, mata merah, penglihatan kabur, dan sakit kepala. Faktor risiko signifikan meliputi durasi screen time yang panjang, posisi duduk yang tidak ergonomis, dan pencahayaan buruk. Karakteristik individu memengaruhi variasi keluhan, laki-laki cenderung lebih banyak melaporkan gejala akut. Sintesis data juga menegaskan bahwa miopia tidak berhubungan secara kausal langsung sebagai penyebab CVS, melainkan kondisi sekunder yang dapat diperparah oleh kebiasaan penglihatan yang buruk saat menatap layar. CVS pada anak memberikan dampak fisiologis dan psikologis yang nyata. Implikasi potensial dari hasil penelitian ini menekankan pentingnya intervensi dini berbasis edukasi kesehatan mata. Direkomendasikan bagi orang tua, pendidik, dan praktisi optometri untuk menerapkan aturan ergonomi dan pembatasan durasi layar seperti metode 20-20-20, serta menggalakkan pemeriksaan mata berkala sejak dini.
PREVALENSI GANGGUAN PENGLIHATAN PADA MASYARAKAT DI PONDOK PESANTREN PESISIR IBNU BATUTAH PAKISJAYA, KABUPATEN KARAWANG, PROVINSI JAWA BARAT Motris Pamungkas; Ade Rachmatulloh; Iwan Nirwana; Alwi Awaludin; Evi Evi; Muhammad Hisyam; Pian Hermansah; wildan Agustin Suangsa
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 2 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v20i2.614

Abstract

Gangguan penglihatan di wilayah pesisir sering kali terabaikan akibat keterbatasan akses pelayanan kesehatan mata dan paparan lingkungan yang ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi gangguan penglihatan pada masyarakat di Pondok Pesantren Pesisir Ibnu Batutah, Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Penelitian kuantitatif deskriptif ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional). Dari populasi target sebanyak 307 orang, diperoleh sampel sebanyak 289 peserta yang memenuhi kriteria inklusi menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data klinis dilakukan melalui pemeriksaan tajam penglihatan (Snellen chart), pemeriksaan refraksi objektif (autorefraktometer) dan subjektif, skrining kelainan organik, serta pengukuran tekanan darah. Analisis data dilakukan secara statistik deskriptif menggunakan persentase distribusi frekuensi. Mayoritas responden berada dalam kondisi emetropia (81%), sedangkan 19% lainnya mengalami ametropia (kelainan refraksi). Prevalensi presbiopia ditemukan sangat tinggi, yaitu mencapai 76% dari total peserta yang diperiksa. Selain itu, sebanyak 8% peserta terdeteksi memiliki suspek kelainan organik seperti katarak, pterigium, dan konjungtivitis. Intervensi langsung diberikan berupa kacamata koreksi gratis bagi penderita ametropia dan presbiopia, serta rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan bagi penderita suspek kelainan organik. Terdapat prevalensi kelainan refraksi, presbiopia, dan suspek patologi mata yang cukup signifikan di komunitas pesantren pesisir Karawang. Program skrining berkala terintegrasi dan penyediaan alat bantu penglihatan sangat direkomendasikan untuk mencegah penurunan kualitas hidup dan menekan angka kebutaan yang dapat dihindari di wilayah pesisir.
ANALISIS KOMPLIKASI YANG DIHASILKAN OLEH PENGGUNAAN LENSA KONTAK NUraisah Nuraisah; Motris Pamungkas; Titin Purbaningrum
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 2 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v20i2.616

Abstract

Tren penggunaan lensa kontak baik untuk estetika maupun koreksi refraksi meningkat pesat, namun diiringi dengan risiko komplikasi okuler akibat kelalaian prosedur pemakaian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis, faktor risiko, dan tingkat kejadian komplikasi mata akibat penggunaan lensa kontak. Penelitian deskriptif ini menggunakan pendekatan literature review. Data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran artikel ilmiah dari berbagai database nasional dan internasional dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (2014–2024). Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan naratif. Temuan utama menunjukkan bahwa komplikasi yang paling sering terjadi adalah abrasi kornea, mata merah (hiperemia konjungtiva), konjungtivitis, giant papillary conjunctivitis (GPC), iritasi, dan sindrom mata kering. Faktor risiko utama pemicu komplikasi meliputi durasi pemakaian harian yang berlebihan, penggunaan saat tidur atau mandi, serta ketidakpatuhan terhadap higienitas tangan dan prosedur pembersihan lensa. Tingkat pengetahuan pengguna tidak selalu berbanding lurus dengan kepatuhan perilaku perawatan yang benar. Komplikasi penggunaan lensa kontak erat kaitannya dengan perilaku perawatan yang tidak higienis dan tidak sesuai standar operasional. Implikasi hasil penelitian menekankan pentingnya pengawasan rutin. Direkomendasikan bagi tenaga optometri dan institusi kesehatan untuk memperluas edukasi promotif dan preventif secara berkelanjutan mengenai tata cara perawatan lensa kontak yang aman guna menekan angka kejadian komplikasi mata pada masyarakat.