Gangguan penglihatan di wilayah pesisir sering kali terabaikan akibat keterbatasan akses pelayanan kesehatan mata dan paparan lingkungan yang ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi gangguan penglihatan pada masyarakat di Pondok Pesantren Pesisir Ibnu Batutah, Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Penelitian kuantitatif deskriptif ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional). Dari populasi target sebanyak 307 orang, diperoleh sampel sebanyak 289 peserta yang memenuhi kriteria inklusi menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data klinis dilakukan melalui pemeriksaan tajam penglihatan (Snellen chart), pemeriksaan refraksi objektif (autorefraktometer) dan subjektif, skrining kelainan organik, serta pengukuran tekanan darah. Analisis data dilakukan secara statistik deskriptif menggunakan persentase distribusi frekuensi. Mayoritas responden berada dalam kondisi emetropia (81%), sedangkan 19% lainnya mengalami ametropia (kelainan refraksi). Prevalensi presbiopia ditemukan sangat tinggi, yaitu mencapai 76% dari total peserta yang diperiksa. Selain itu, sebanyak 8% peserta terdeteksi memiliki suspek kelainan organik seperti katarak, pterigium, dan konjungtivitis. Intervensi langsung diberikan berupa kacamata koreksi gratis bagi penderita ametropia dan presbiopia, serta rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan bagi penderita suspek kelainan organik. Terdapat prevalensi kelainan refraksi, presbiopia, dan suspek patologi mata yang cukup signifikan di komunitas pesantren pesisir Karawang. Program skrining berkala terintegrasi dan penyediaan alat bantu penglihatan sangat direkomendasikan untuk mencegah penurunan kualitas hidup dan menekan angka kebutaan yang dapat dihindari di wilayah pesisir.
Copyrights © 2026