Penelitian ini menganalisis fenomena political rebound pada mantan Kepala Desa Tasikmadu, Kabupaten Trenggalek, yang mengalami kekalahan dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), tetapi kemudian berhasil terpilih sebagai anggota DPRD dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) tingkat kabupaten. Fokus penelitian diarahkan pada proses konversi modal sosial, modal simbolik, dan modal politik yang memungkinkan aktor lokal membangun kembali posisi politiknya setelah mengalami kekalahan elektoral di tingkat desa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus eksplanatif. Data diperoleh melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan mantan kepala desa sebagai informan utama, tim sukses, pihak oposisi, tokoh masyarakat, serta masyarakat pemilih. Analisis dilakukan dengan menggunakan perspektif Pierre Bourdieu mengenai habitus, modal, dan ranah politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekalahan dalam Pilkades dipengaruhi oleh pelemahan bonding social capital akibat karakter arena desa yang sempit, personal, dan sarat sentimen sosial. Praktik botohan atau taruhan politik lokal juga turut memengaruhi pemilih mengambang pada fase akhir kontestasi. Sebaliknya, kemenangan dalam Pileg terjadi karena perubahan ranah politik dari arena mikro desa menuju arena elektoral yang lebih luas. Mantan kepala desa mampu mengonversi modal simbolik berupa rekam jejak kepemimpinan, mengaktifkan bridging social capital melalui jaringan lintas desa dan pendekatan programatik, serta memanfaatkan linking social capital untuk membaca peta dukungan dan memilih kendaraan partai secara taktis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kekalahan elektoral di tingkat desa tidak selalu mengakhiri karier politik aktor lokal, tetapi dapat menjadi titik awal reaktivasi modal politik dalam arena yang lebih luas.
Copyrights © 2026