Konflik pembebasan lahan dalam Proyek Strategis Nasional sering menempatkan masyarakat terdampak pada posisi yang lemah dalam proses pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran local strongman dalam resolusi konflik pembebasan lahan yang dialami nelayan Terboyo Wetan akibat pembangunan Tol Semarang-Demak. Dengan pendekatan kualitatif studi kasus, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa local strongman berperan sebagai mediator melalui dua jejaring yang saling melengkapi, yakni Ketua Kelompok Usaha Bersama nelayan membangun jejaring vertikal-institusional dengan pemerintah dan aktor proyek, sedangkan tengkulak setempat mengelola jejaring horizontal-ekonomi berbasis patron-klien. Melalui mekanisme kontrol sosial yang berbeda, keduanya memperkuat posisi tawar nelayan sehingga diakui sebagai pihak yang harus dilibatkan dalam negosiasi. Resolusi konflik yang dicapai bersifat bertahap dan asimetris berupa kompensasi finansial telah direalisasikan meski di bawah tuntutan awal, sementara pemulihan akses spasial masih dalam tahap perencanaan. Resolusi tersebut turut memproduksi relasi sosial baru, ditandai kesediaan nelayan menjaga keamanan area proyek secara sukarela. Temuan ini menegaskan bahwa local strongman berkontribusi penting dalam memperjuangkan pengakuan dan kompensasi, namun efektivitasnya tetap dibatasi oleh ketimpangan relasi kekuasaan.
Copyrights © 2026