Dominasi penggunaan Bahasa Sunda dalam komunikasi harian menciptakan tantangan bagi siswa sekolah dasar saat dituntut menggunakan Bahasa Indonesia secara formal. Penelitian kualitatif ini bertujuan menganalisis dampak Bahasa Sunda (L1) terhadap keterampilan berbicara Bahasa Indonesia (L2) siswa di SDN 6 Sindangkasih melalui metode studi kasus. Data dianalisis menggunakan model Strauss dan Corbin berdasarkan hasil wawancara dan observasi. Temuan penelitian menunjukkan empat dampak utama: interferensi linguistik (campur kode dan aksen), kesenjangan gender dalam kecepatan adaptasi, hambatan kognitif (processing lag), serta respon pedagogis guru. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa bahasa ibu berperan ganda sebagai penghambat sekaligus jembatan kognitif yang vital. Disarankan penerapan pendekatan pembelajaran yang inklusif dan ramah bahasa daerah untuk meningkatkan efektivitas penguasaan Bahasa Indonesia siswa tanpa mengesampingkan identitas budaya.
Copyrights © 2026