Penelitian ini mengeksplorasi fenomena burnout pada guru Generasi Z di lembaga pendidikan Islam, yang masih terbatas kajiannya meskipun kompleksitas peran pendidik dan tekanan digital pada generasi ini semakin meningkat. Tujuannya adalah mengidentifikasi faktor-faktor penyebab burnout pada guru Generasi Z di Permata Qur’an School dalam perspektif Islam. Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan metode campuran terbatas, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, kuesioner skala Likert (1–5), dan observasi langsung. Subjek dipilih secara purposif (guru aktif Gen Z, usia 22–27 tahun, pengalaman minimal satu tahun). Analisis data kualitatif menggunakan model Miles dan Huberman, sedangkan data kuantitatif dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa burnout bersifat multidimensional, berasal dari beban kerja struktural (administratif, ekspektasi orang tua) dan tekanan budaya-digital (konektivitas tanpa batas yang memicu digital burnout). Meskipun mekanisme koping spiritual Islam (pandangan kerja sebagai ibadah, sabar, tawakkal, doa, dzikir) sangat kuat, ditemukan paradoks kritis: burnout yang tidak dikelola secara kelembagaan justru menurunkan kualitas ibadah mahdhah (kekhusyukan dan kuantitas ibadah harian). Penelitian ini menyimpulkan bahwa spiritualitas individu saja tidak cukup; diperlukan intervensi manajerial berbasis nilai ihsan, seperti pembatasan komunikasi digital di luar jam kerja, dukungan psikologis, dan distribusi beban kerja yang manusiawi, agar keseimbangan antara habluminallah dan kesehatan mental guru Generasi Z tetap terjaga.
Copyrights © 2026