Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi perangkat pembelajaran mendalam (deep learning) dan mengidentifikasi karakteristik miskonsepsi murid kelas V Sekolah Dasar dalam menyelesaikan masalah matematika berdasarkan tahapan Polya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif berbasis praktik reflektif (reflective practice) yang dilaksanakan sebanyak enam pertemuan di SDN-1 Paren dengan melibatkan 6 murid kelas V. Data dikumpulkan melalui observasi keterlaksanaan pembelajaran, jurnal refleksi harian guru, dan analisis artefak hasil belajar berupa portofolio murid pada topik pecahan, keliling, dan luas bangun datar. Analisis data dilakukan secara kualitatif menggunakan teknik analisis isi (content analysis) interaktif meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan eksploratif melalui aktivitas kontekstual seperti bermain peran perdagangan lokal ("Math Market") dan proyek ("Geometry Craft") mampu meningkatkan keterlibatan aktif dan motivasi intrinsik murid. Namun, proses refleksi menyingkap adanya hambatan kognitif yang persisten pada tahap pemecahan masalah Polya. Murid mengalami hambatan transisi berpikir (cognitive gap) dari fase konkret ke abstrak, kerancuan konsep ruang permukaan (luas) dengan garis batas (keliling), serta ketergantungan pada pemahaman instrumental. Hasil refleksi ini memberikan landasan urgensi teoretis perlunya pengembangan intervensi media visual yang lebih dinamis berbasis Virtual Manipulative pada pembelajaran selanjutnya.
Copyrights © 2026