Krisis air bersih di Kota Palembang dipicu oleh pendangkalan Sungai Musi, pencemaran air sumur, serta peningkatan populasi. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemanenan air hujan dari atap rumah menjadi alternatif cadangan air bersih potensial, mengingat curah hujan kota ini cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas parameter fisika air hujan hasil pemanenan berdasarkan variasi jenis material atap Genteng, Seng Alkan, dan Seng Galvanis sebagai sumber air higienis. Metode penelitian ini adalah metode eksperimen dimulai dari penampungan air hujan, pengujian laboratorium, dan analisis data parameter fisika (kekeruhan, temperatur, bau, rasa, dan TDS). Hasil pengujian menunjukkan bahwa sampel dari ketiga jenis atap memenuhi standar baku mutu air higienis. Atap genteng menghasilkan nilai TDS terendah (18 mg/L) dan suhu paling stabil (22 °C), namun memiliki tingkat kekeruhan tertinggi (2,2 NTU). Sebaliknya, atap berbahan logam (Alkan dan Galvanis) memiliki kekeruhan lebih rendah tetapi nilai TDS dan suhu lebih tinggi akibat konduktivitas panas dan larutan logam. Kesimpulannya, air hujan hasil pemanenan layak digunakan untuk kebutuhan non-konsumsi, dengan material atap genteng sebagai opsi paling aman. Penggunaan sistem first flush dan filtrasi tetap disarankan untuk meningkatkan kualitas air.
Copyrights © 2026