Banjir tetap menjadi tantangan lingkungan dan sosial-ekonomi utama di Asia Tenggara, khususnya di kota-kota pesisir berukuran menengah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menilai dan memetakan kerentanan sosial-ekonomi terhadap bencana banjir di Pangkalpinang menggunakan pendekatan Multiple Criteria Decision Analysis (MCDA) berbasis Geographic Information System (GIS). Analisis kuantitatif dilakukan melalui integrasi data spasial dan non-spasial yang diperoleh dari survei primer dan sumber sekunder seperti Badan Pusat Statistik (BPS). Penilaian meliputi indikator sosial berupa kepadatan penduduk dan kelompok usia rentan atau penyandang disabilitas, serta indikator ekonomi seperti persentase penduduk miskin dan luas kawasan produktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kecamatan di Pangkalpinang termasuk dalam kategori kerentanan sosial-ekonomi sedang hingga tinggi. Kecamatan Bukit Intan menunjukkan tingkat kerentanan tertinggi (skor 10 atau 83%), sedangkan kecamatan lainnya, termasuk Rangkui, Girimaya, Pangkal Balam, Tamansari, Gabek, dan Gerunggang, diklasifikasikan dalam kategori sedang (skor 8–9 atau 67–75%). Kepadatan penduduk yang tinggi, proporsi kelompok rentan yang besar, dan jumlah penduduk miskin yang signifikan merupakan faktor-faktor utama yang berkontribusi. Temuan ini menegaskan pentingnya strategi mitigasi banjir yang terarah dengan memprioritaskan pemerataan sosial-ekonomi, meningkatkan kapasitas adaptif, serta memperkuat perencanaan ketahanan perkotaan di kota-kota pesisir seperti Kota Pangkal Pinang
Copyrights © 2026