Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah masih menghadapi tantangan dalam merespons realitas keragaman siswa, mencakup kemampuan, latar belakang sosial-budaya, dan sudut pandang keagamaan. Kecenderungan untuk menerapkan pendekatan normatif-doktrinal dalam PAI mengakibatkan nilai-nilai inklusi, moderasi beragama, serta penghormatan terhadap perbedaan belum sepenuhnya diintegrasikan. Tujuan artikel ini adalah untuk mengembangkan model Pendidikan Agama Islam inklusif di sekolah sebagai opsi untuk meningkatkan pembelajaran PAI yang lebih kontekstual dan responsif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan studi pustaka sistematis terhadap literatur ilmiah, dokumen kebijakan pendidikan, serta kajian kontemporer tentang Islam yang berkaitan dengan pendidikan inklusif. Proses analisis data dilakukan dengan teknik analisis tematik untuk menemukan prinsip-prinsip, strategi, dan elemen-elemen kunci dari model PAI yang inklusif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa model PAI inklusif di sekolah didasari oleh empat pilar utama, yaitu: (1) pengintegrasian nilai-nilai Islam moderat dan rahmatan lil ‘alamin ke dalam tujuan dan materi pembelajaran; (2) penerapan pedagogi inklusif yang berbasis pada diferensiasi dan metode pembelajaran partisipatif; (3) penguatan peran guru PAI sebagai agen moderasi dan fasilitator dalam proses belajar mengajar; serta (4) menciptakan ekosistem sekolah yang mendukung budaya toleransi dan keadilan. Kebaruan artikel ini terletak pada pengembangan kerangka konseptual untuk model PAI inklusif yang bersifat sistemik dan aplikatif dalam konteks sekolah-sekolah di Indonesia. Temuan dari penelitian ini memberikan kontribusi terhadap perkembangan diskursus akademik dan praktik PAI yang berorientasi pada inklusivitas serta keberlanjutan pendidikan.
Copyrights © 2026