The development of tourism in Pangandaran has largely focused on coastal attractions, while the integration of local cultural potential, particularly traditional dance, into community-based tourism remains limited. This community service activity aims to strengthen the role of local dance performances and tourism village institutions in supporting Community-Based Tourism (CBT) through a collaborative cultural event. The Early-Year Dance Festival 2024 was organized by PT Jasa dan Kepariwisataan Jabar (Perseroda) in collaboration with the Pangandaran Tourism Village and involved seven dance studios across Pangandaran Regency. This study employs a Participatory Action Research (PAR) approach based on CBT principles, emphasizing active community participation in the planning, implementation, and evaluation processes. The results demonstrate significant community involvement through the participation of local art groups, MSMEs, and youth performers. Beyond cultural preservation, the activity fostered inter-studio collaboration and generated a local economic multiplier effect, reflected in increased visitor engagement and local product consumption. This initiative illustrates the sustainable integration of culture and tourism and provides a practical model of regional corporate social responsibility.Pengembangan pariwisata di Pangandaran selama ini masih didominasi oleh wisata bahari, sementara pemanfaatan potensi budaya lokal, khususnya seni tari, dalam kerangka pariwisata berbasis masyarakat belum terintegrasi secara optimal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat peran seni tari dan kelembagaan Kampung Wisata dalam mendukung penguatan Community-Based Tourism (CBT) melalui kolaborasi lintas sanggar. Pagelaran Tari Awal Tahun 2024 diselenggarakan oleh PT Jasa dan Kepariwisataan Jabar (Perseroda) bekerja sama dengan Kampung Wisata Pangandaran dengan melibatkan tujuh sanggar tari dari berbagai kecamatan di Kabupaten Pangandaran. Kegiatan ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan prinsip CBT, yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan partisipasi masyarakat melalui keterlibatan komunitas seni, pelaku UMKM, dan generasi muda. Selain berkontribusi terhadap pelestarian seni tari tradisional, kegiatan ini juga memperkuat jejaring kolaborasi lintas sanggar serta menghasilkan efek ekonomi lokal (multiplier effect) berupa peningkatan kunjungan wisatawan dan aktivitas ekonomi masyarakat. Kegiatan ini menjadi praktik nyata integrasi seni dan pariwisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan serta contoh penerapan tanggung jawab sosial perusahaan di tingkat daerah.
Copyrights © 2026