Latar Belakang: Kekerasan seksual di lembaga pendidikan tinggi merupakan fenomena yang semakin umum terjadi, dengan konsekuensi fisik, psikologis, dan sosial yang serius bagi korban. Fenomena ini dipengaruhi oleh konstruksi sosial maskulinitas yang menekankan kekuatan, dominasi, penekanan emosi, dan penegasan superioritas melalui perilaku agresif. Ketika ekspresi emosional dihambat dan konsep diri dibangun berdasarkan nilai-nilai tersebut, individu mungkin mengalihkan tekanan internal ke dalam tindakan kekerasan, termasuk kekerasan seksual, menunjukkan bagaimana maskulinitas yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko menjadi pelaku. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat risiko menjadi pelaku kekerasan seksual di kalangan mahasiswa dengan karakteristik maskulin. Metode: Teknik sampling menggunakan total sampling, yaitu seluruh populasi diundang untuk mengikuti tahap skrining maskulinitas. Dari 162 mahasiswa, sebanyak 139 mahasiswa bersedia berpartisipasi dan mengisi informed consent sehingga mengikuti skrining maskulinitas (response rate 85,8%), sedangkan 23 mahasiswa tidak bersedia berpartisipasi sehingga tidak diikutsertakan dalam penelitian. , menggunakan alat skrining maskulinitas Thompson dan Bennett, dengan hasil uji validitas sebesar 0,92 dan hasil uji reliabilitas sebesar 0,795. Kuesioner tindak lanjut menggunakan Skala Risiko Perilaku Kekerasan Seksual, dengan hasil reliabilitas sebesar 0,964. Analisis data dilakukan secara univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden termasuk dalam kategori risiko sedang terkait dengan pelanggaran kekerasan seksual. Temuan ini menunjukkan adanya potensi kerentanan yang belum berkembang menjadi risiko tinggi, namun tetap memerlukan perhatian. Maskulinitas bukanlah satu-satunya faktor penentu, tetapi berinteraksi dengan faktor lain seperti regulasi emosi, pengendalian diri, dan pengaruh lingkungan sosial. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas mahasiswa pria dengan karakteristik maskulinitas berada pada kategori risiko sedang untuk menjadi pelaku kekerasan seksual.
Copyrights © 2026