Reni Nuryani
Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Daerah Sumedang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambaran Emotional Labor pada Petugas Pemadam Kebakaran: The Description of Emotional Labor of Firefighters Shena Ravina Anjani; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 6 (2026): EDISI JUNI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i6.251

Abstract

Pendahuluan: Emotional labor merupakan kemampuan individu dalam mengatur emosi pribadi agar sesuai dengan tuntutan peran profesionalnya, yang sering terjadi pada profesi yang menuntut interaksi langsung dengan orang lain, salah satunya adalah pemadam kebakaran. Emotional labor pada petugas pemadam kebakaran muncul ketika mereka menghadapi situasi traumatis seperti evakuasi korban, ancaman kebakaran, dan tekanan publik, sementara pada saat yang sama mereka dituntut untuk tidak mengekspresikan emosi yang sebenarnya karena ekspektasi profesional dan kebutuhan masyarakat akan sosok yang tenang serta dapat diandalkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran emotional labor pada petugas pemadam kebakaran khususnya di Sektor X. Metode: Deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling dengan 77 sampel. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Emotional Labor Scale. Analisis data dilakukan secara univariat dengan distribusi frekuensi dan nilai mean, standar deviasi, nilai minimum, dan nilai maksimum. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa emotional labor berada pada kategori tinggi, dengan deep acting yang berada pada kategori tinggi, sedangkan surface acting berada pada kategori sedang. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pola adaptif dari regulasi emosi petugas pemadam kebakaran yang cenderung menginternalisasi emosi sebagai tuntutan profesi daripada sekadar memalsukannya.
Gambaran Risiko Menjadi Pelaku Kekerasan Seksual pada Mahasiswa dengan Maskulinitas Ersa Ratmi Tiara; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Surya Medika: Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 21 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/sm.v21i2.1438

Abstract

Latar Belakang: Kekerasan seksual di lembaga pendidikan tinggi merupakan fenomena yang semakin umum terjadi, dengan konsekuensi fisik, psikologis, dan sosial yang serius bagi korban. Fenomena ini dipengaruhi oleh konstruksi sosial maskulinitas yang menekankan kekuatan, dominasi, penekanan emosi, dan penegasan superioritas melalui perilaku agresif. Ketika ekspresi emosional dihambat dan konsep diri dibangun berdasarkan nilai-nilai tersebut, individu mungkin mengalihkan tekanan internal ke dalam tindakan kekerasan, termasuk kekerasan seksual, menunjukkan bagaimana maskulinitas yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko menjadi pelaku. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat risiko menjadi pelaku kekerasan seksual di kalangan mahasiswa dengan karakteristik maskulin. Metode: Teknik sampling menggunakan total sampling, yaitu seluruh populasi diundang untuk mengikuti tahap skrining maskulinitas. Dari 162 mahasiswa, sebanyak 139 mahasiswa bersedia berpartisipasi dan mengisi informed consent sehingga mengikuti skrining maskulinitas (response rate 85,8%), sedangkan 23 mahasiswa tidak bersedia berpartisipasi sehingga tidak diikutsertakan dalam penelitian. , menggunakan alat skrining maskulinitas Thompson dan Bennett, dengan hasil uji validitas sebesar 0,92 dan hasil uji reliabilitas sebesar 0,795. Kuesioner tindak lanjut menggunakan Skala Risiko Perilaku Kekerasan Seksual, dengan hasil reliabilitas sebesar 0,964. Analisis data dilakukan secara univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden termasuk dalam kategori risiko sedang terkait dengan pelanggaran kekerasan seksual. Temuan ini menunjukkan adanya potensi kerentanan yang belum berkembang menjadi risiko tinggi, namun tetap memerlukan perhatian. Maskulinitas bukanlah satu-satunya faktor penentu, tetapi berinteraksi dengan faktor lain seperti regulasi emosi, pengendalian diri, dan pengaruh lingkungan sosial. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas mahasiswa pria dengan karakteristik maskulinitas berada pada kategori risiko sedang untuk menjadi pelaku kekerasan seksual.