Crane Rubber Tyred Gantry (RTG) merupakan peralatan utama di lapangan penumpukan peti kemas yang berfungsi untuk menumpuk peti kemas secara vertikal. Seiring dengan meningkatnya aktivitas pelabuhan, teknologi RTG terus berkembang, termasuk penerapan spreader tipe twin-lift yang memungkinkan pengangkatan dua peti kemas ukuran 20 kaki secara bersamaan, serta penggunaan sistem elektrik penuh untuk menggantikan mekanisme hidrolik konvensional. Penelitian ini menerapkan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) untuk mengidentifikasi potensi kegagalan komponen beserta dampaknya terhadap sistem. Studi kasus dilakukan di Terminal Peti Kemas Surabaya, Jawa Timur, yang memegang peranan vital sebagai titik temu antara lalu lintas darat dan laut demi menjamin distribusi kargo yang efisien. Hasil penilaian Risk Priority Number (RPN) menunjukkan bahwa sistem HSTSYT memiliki tingkat risiko tertinggi (720), diikuti oleh GTRSYT (488), SPDSYT (320), ENGSYT (280), dan TRLSYT (180). Temuan ini menunjukkan komponen kritis yang dapat mengganggu operasional jika tidak ditangani segera. Pemeliharaan preventif, inspeksi berkala, dan teknologi pemantauan diperlukan untuk mendeteksi tanda-tanda awal kegagalan. Secara keseluruhan, evaluasi RPN memberikan dasar yang jelas dalam menentukan prioritas strategi pemeliharaan. Penerapannya mendukung kelangsungan operasional, mengurangi waktu henti (downtime), serta meningkatkan efektivitas logistik di terminal peti kemas, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap produktivitas dan keberlanjutan operasional.
Copyrights © 2026