Pendahuluan. Kakao merupakan salah satu komoditas andalan Perkebunan Indonesia yang memiliki peranan penting dalam Pembangunan perekonomian nasional, pengembangan wilayah, pembuka lapangan pekerjaan dan pendapatan devisa negara. Benih kakao tergolong benih rekalsitran dimana benih tidak mampu disimpan lama. Penyimpanan benih kakao mengakibatkan kemunduran benih pada proses pembibitan. Agar mengetahui pertumbuhan benih kakao setelah penyimpanan, maka diperlukan pembibitan pada benih kakao yang telah disimpan. Metode Pengumpulan Data. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Tanaman Politeknik Negeri Jember pada Bulan Januari - Juni 2024 dan Laboratorium Teknologi Produksi Benih Politeknik Negeri Jember pada bulan Juni 2024. Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah Perbedaan Media Simpan yaitu M1: Media Simpan Serbuk Gergaji dan M2: Media Simpan Sekam Padi. Faktor kedua adalah Lama Penyimpanan yaitu P1: Penyimpanan Selama 5 hari, P2: Penyimpanan Selama 10 hari, dan P3: Penyimpanan Selama 15 hari. Parameter yang diamati yaitu tinggi bibit, diameter batang bibit, jumlah daun, panjang akar, berah basah dan berat kering. Hasil dan Diskusi. Dari hasil penelitian menunjukkan perbedaan media simpan benih berpengaruh nyata pada diameter batang umur 90 hari setelah tanam (HST) dan berpengaruh sangat nyata pada diameter batang umur 120 HST. Lama penyimpanan benih berpengaruh nyata pada parameter tinggi bibit umur 30 HST, umur 60 HST, dan berpengaruh sangat nyata pada tinggi bibit umur 120 HST. Adanya interaksi antara perbedaan media simpan dan lama penyimpanan berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi bibit umur 60 HST. Simpulan. Diameter batang bibit terbaik diperoleh pada bibit umur 120 HST dengan nilai rata-rata 6,54 mm. Jumlah daun terbaik pada bibit umur 30 HST dengan rata-rata 8,93 helai. Tinggi bibit terbaik diperoleh pada umur 120 HST dengan nilai rata-rata 45,05 cm.
Copyrights © 2026