Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif berbagai sistem penggembalaan itik yang diterapkan di Asia Tenggara dalam kurun waktu 2014-2023. Asia Tenggara merupakan salah satu sentra produksi itik terbesar di dunia, dengan sistem penggembalaan sebagai pilar utama dalam usaha peternakan itik tradisional. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pencarian sistematis pada database akademik (Google Scholar, Scopus, Web of Science, PubMed, dan Directory of Open Access Journals) menggunakan kata kunci "duck grazing", "free-range duck", "integrated rice-duck", dan "sistem gembala itik". Sebanyak 1.247 artikel awal ditemukan, dan setelah proses skrining serta seleksi kelayakan, 25 artikel yang relevan dimasukkan ke dalam analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem penggembalaan padi sawah (rice-duck integration) merupakan sistem dominan dengan proporsi 42%, diikuti oleh gembala perairan (25%), gembala padang rumput (15%), sistem semi-intensif (12%), dan gembala pesisir (6%). Indonesia menjadi negara dengan kontribusi penelitian terbanyak (45 studi), diikuti Vietnam (28 studi) dan Thailand (18 studi). Tren publikasi menunjukkan peningkatan signifikan dari 8 publikasi pada tahun 2014 menjadi 35 publikasi pada tahun 2023. Produktivitas tertinggi dicapai pada sistem gembala padi sawah dengan produksi telur 280 butir/ekor/tahun dan pertambahan bobot badan 35 g/hari. Tantangan utama yang diidentifikasi meliputi keterbatasan lahan (85%), risiko penyakit (72%), dan ketersediaan pakan alami (68%). Kesimpulan menunjukkan bahwa sistem penggembalaan itik di Asia Tenggara memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan, namun memerlukan intervensi kebijakan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi.
Copyrights © 2024