Uji petik merupakan kegiatan pengukuran volume sampel tumpukan overburden sebagai monitoring dan kontrol manajemen produksi perusahaan. PT Putra Perkasa Abadi Jobsite PT Bukit Asam Tbk melakukan uji petik menggunakan GNSS metode Real Time Kinematic (RTK). Akan tetapi, pengukuran menggunakan alat ini cenderung kurang efisien secara waktu sehingga diperlukan metode alternatif. Metode fotogrametri menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dapat melakukan akuisisi data secara cepat, serta menghasilkan resolusi spasial tinggi dengan biaya terjangkau. Salah satu parameter yang ditentukan dalam perencanaan pengukuran adalah tinggi terbang. Tinggi terbang mempengaruhi kualitas foto udara yang akan berpengaruh pada volume yang dihasilkan. Tujuan proyek akhir ini untuk membandingkan hasil volume UAV dengan GNSS metode RTK, serta menentukan tinggi terbang optimal dalam pengukuran volume uji petik overburden.Akuisisi data dilakukan dengan tiga variasi tinggi terbang, yaitu 30 meter, 40 meter, dan 50 meter. Pengukuran GCP dan ICP menggunakan metode RTK dengan jumlah titik GCP sebanyak lima buah dan ICP sebanyak enam buah. Foto udara diolah menggunakan Agisoft Metashape, kemudian point cloud diekspor ke Surpac untuk dihitung volumenya. Hasil perhitungan volume dianalisis melalui uji t untuk mengetahui signifikansi perbedaan antar tinggi terbang dan kedua metode pengukuran. Hasil perhitungan volume tinggi terbang 30 meter sebesar 340,92 m3 dengan waktu akuisisi data foto udara selama 4 menit, tinggi terbang 40 meter sebesar 340,68 m3 dengan waktu pengambilan data 2 menit dan 351,83 m3 untuk tinggi terbang 50 meter dengan waktu pemotretan selama 1 menit. Uji statistik t antar tinggi terbang menunjukkan nilai volume antara tinggi terbang 30 meter dengan 40 meter tidak memiliki perbedaan secara signifikan. Sementara itu, hasil dari perhitungan volume menggunakan alat GNSS metode RTK sebesar 328,26 m3 sehingga diperoleh selisih volume antara UAV dengan GNSS metode RTK untuk tinggi terbang 30 meter sebesar 3,79%, tinggi terbang 40 meter sebesar 3,66%, dan 7,09% untuk tinggi terbang 50 meter. Hasil uji statistik t antara UAV dengan GNSS metode RTK menunjukkan volume tinggi terbang 40 meter tidak memiliki perbedaan signifikan dengan GNSS metode RTK. Berdasarkan waktu akuisisi data foto udara dan hasil dari uji statistik t, tinggi terbang optimal yang disarankan untuk pengukuran volume uji petik tumpukan overburden adalah 40 meter.
Copyrights © 2026