Penelitian ini akan menganalisis representasi perayaan sebagai tipuan sosial dalam dua cerpen lintas budaya yaitu, Two Thanksgiving Day Gentlemen (1907) karya O. Henry dan Syukuran (2014) karya Sori Siregar. Penelitian ini menggunakan teori representasi dari Stuart Hall dan dekonstruksi dari Jacques Derrida menggunakan metode deskriptif analisis. Penelitian ini akan mengungkap bagaimana simbol-simbol perayaan secara sosial tidak selalu merefleksikan makna yang ideal, yang biasanya merepresentasikan rasa syukur, kebersamaan dan spiritualitas, sebaliknya terdapat tujuan terselubung dengan menjadikan budaya untuk kepentingan individu seperti memulihkan martabat, reputasi atau bahkan hanya menciptakan ilusi sosial. Hasil temuan menunjukkan bahwa di dalam tradisi syukuran atau selamatan, yang biasanya digunakan untuk perayaan hasil panen, khitanan, nikahan, atau perayaan lain, dimanipulasi oleh tokoh utama untuk menjadi sarana memulihkan martabat dan reputasi tokoh utama yang seakan ingin menebus dosanya melalui tradisi Syukuran. Sementara itu, Two Thanksgiving Day Gentlemen menyiratkan pengorbanan dan penderitaan yang tersembunyi dibalik tradisi perayaan tersebut, yang mana subjek yang bagian dari perayaan justru mengalami kerugian fisik demi menjaga citra sosial, hanya untuk perayaan malam thanksgiving pelaku bahkan rela tidak makan berhari-hari. Dengan melihat kedua cerpen tersebut, studi ini melihat bahwa perayaan dapat menjadi alat manipulasi sosial yang bisa melampaui dan melenceng dari tradisi asli.
Copyrights © 2026