Maraknya informasi digital telah secara mendasar mengubah otoritas keagamaan dan proses epistemologis dalam pembelajaran Islam di kalangan mahasiswa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis. Subjek penelitian adalah sepuluh mahasiswa aktif di STAI Tuanku Tambusai dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang secara aktif menggunakan platform digital seperti TikTok, YouTube, dan Instagram sebagai sumber pembelajaran Islam. Lokasi penelitian berada di kedua lembaga pendidikan tinggi Islam tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur berdurasi 60-90 menit, dan dianalisis menggunakan model Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) enam tahap. Hasil penelitian mengungkap empat proses yang saling terkait: (1) fragmentasi otoritas keagamaan berbasis sanad; (2) kolonisasi algoritmik ruang informasi keagamaan; (3) komodifikasi pengetahuan Islam; dan (4) penggantian kriteria epistemologis teologis dengan kriteria popularitas emosional dan digital. Mahasiswa cenderung memvalidasi pengetahuan keagamaan berdasarkan resonansi emosional dan jumlah pengikut daripada kedalaman teologis, yang mengakibatkan terbentuknya identitas keagamaan yang terfragmentasi dan tidak konsisten secara epistemologis. Temuan ini menyoroti urgensi pengembangan kerangka literasi epistemologis keagamaan digital yang berlandaskan maqasid al-syariah dalam kurikulum perguruan tinggi Islam di Indonesia.
Copyrights © 2026