Ruptur perineum merupakan salah satu komplikasi persalinan pervaginam yang berkontribusi terhadap perdarahan postpartum, infeksi, dan meningkatnya angka kematian ibu (AKI). Data WHO menunjukkan hampir 50% ibu bersalin di Asia mengalami ruptur perineum, sementara di Indonesia prevalensinya mencapai 85% pada ibu bersalin pervaginam. Pendekatan Continuity of Care (CoC) berperan strategis dalam deteksi dini dan penatalaksanaan komplikasi tersebut. Tujuan menerapkan asuhan kebidanan berkelanjutan pada Ny. D dengan ruptur perineum derajat II mulai dari kehamilan trimester III, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan Keluarga Berencana di PMB Sartika Manurung. Metode: Studi kasus deskriptif dengan pendekatan Continuity of Care pada Ny. D usia 34 tahun (G2P1A0). Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Analisis menggunakan tujuh langkah manajemen kebidanan Helen Varney dan pendokumentasian SOAP. Hasil kehamilan berlangsung fisiologis dengan keluhan sering miksi. Persalinan tanggal 14 Desember 2025 menghasilkan ruptur perineum derajat II yang ditangani dengan penjahitan teknik matras. Masa nifas berjalan normal, involusi uteri baik, luka perineum sembuh sempurna, bayi lahir sehat dengan APGAR 10, dan ibu memilih kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL). Simpulan penerapan Continuity of Care efektif menurunkan risiko komplikasi ruptur perineum derajat II dan mendukung kesejahteraan ibu dan bayi.
Copyrights © 2026