Perkembangan abad ke-21 menuntut transformasi mendasar dalam sistem pendidikan dasar, khususnya dalam membekali siswa dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi (High-Order Thinking Skills/HOTS), salah satunya adalah kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) hadir sebagai pendekatan interdisipliner terpadu yang dinilai efektif meningkatkan keterlibatan siswa dan mengasah penalaran analitis sejak dini. Artikel ini menyajikan tinjauan komprehensif mengenai implementasi pembelajaran STEM di sekolah dasar serta dampaknya terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Melalui sintesis literatur sistematis, penelitian ini mengeksplorasi ragam model integrasi STEM (silo, terpatri, dan terpadu), tantangan pedagogis dan logistik yang dihadapi pendidik, serta bukti-bukti empiris yang menunjukkan peningkatan signifikan pada indikator berpikir kritis mencakup interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri. Hasil kajian mengindikasikan bahwa integrasi STEM berbasis proyek (Project-Based Learning) dan model pembelajaran berorientasi masalah (Problem-Based Learning) mampu mendongkrak kemampuan berpikir kritis siswa SD secara signifikan dibandingkan metode konvensional. Diskusi dalam makalah ini memberikan panduan praktis dan rekomendasi strategis bagi praktisi, pengembang kurikulum, dan pembuat kebijakan untuk mewujudkan pendidikan STEM yang inklusif, berkelanjutan, dan adaptif di jenjang sekolah dasar.
Copyrights © 2026