Industri genteng tanah liat tradisional di wilayah pedesaan menghadapi tantangan eksistensial yang signifikan akibat penetrasi bahan bangunan fabrikasi modern yang lebih praktis dan murah. Di Desa Karanggeneng, Kabupaten Boyolali, pengrajin genteng masih berupaya mempertahankan metode produksi konvensional di tengah fluktuasi harga bahan baku dan minimnya regenerasi tenaga kerja muda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi bertahan yang diterapkan oleh pengrajin genteng tradisional baik dari dimensi ekonomi maupun sosial- kultural. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus deskriptif, melibatkan 12 pengrajin sebagai informan kunci melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi bertahan pengrajin meliputi diversifikasi pola distribusi, pemanfaatan jaringan kekerabatan untuk efisiensi upah, serta adaptasi kualitas produk melalui pemilihan jenis tanah liat tertentu. Disimpulkan bahwa ketahanan industri ini sangat bergantung pada modal sosial dan identitas kultural desa yang masih menganggap pembuatan genteng sebagai warisan leluhur. Rekomendasi diberikan kepada pemerintah daerah untuk memfasilitasi modernisasi alat pembakaran guna meningkatkan efisiensi tanpa menghilangkan nilai tradisional produk.
Copyrights © 2026