Tempering baja adalah suatu proses dimana baja sebelumnya keras atau normal biasanya dipanaskan pada temperatur dibawah temperatur kritis dan didinginkan dengan laju pendinginan tertentu, terutama untuk menambah keuletan (ductility) dan ketangguhan (toughness), tetapi juga untuk menambah grain size of matrix. Baja di temper dengan pemanasan kembali sesudah dikeraskan untuk mencapai nilai spesifik sifat mekanik dan juga untuk relieve quenching stress dan untuk menjamin dimensi yang stabil. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sifat mekanik dan struktur mikro pisau tradisional yang terbuat dari bering bekas, setelah melalui proses tempering 3500 C dan ditahan selama 60 menit. Pada penelitian ini menggunakan Universal Tensile Test 100 kN, dan Mikroskop optik metalografi.Adapun hasil dari penelitian ini adalah: (1) kekuatan tarik media pendingin Udara 1.500,172 N/mm2, Air 691.288 N/mm2, Oli 598.791 N/mm2, Air garam 633.394 N/mm2, Air Batang Pisang 126,524 N/mm2, dan metode patahannya yaitu patah getas. (2) Struktur mikro yang muncul yaitu, Ferrit, Perlit, Sementit, dan Martensit. Dari hasil analisa, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kegetasan serta keuletan baja, dipengaruhi oleh struktur mikro yang muncul karena adanya perlakuan yang diberikan sebelumnya. Tempering is a heat-treatment process in which previously hardened or normalized steel is reheated to a temperature below the critical range and then cooled at a controlled rate. The primary purpose is to improve ductility and toughness, while also stabilizing the microstructure and relieving residual stresses induced by quenching to ensure dimensional stability. This study aims to evaluate the mechanical properties and microstructure of traditional knives manufactured from used bearing steel after tempering at 350°C with a holding time of 60 minutes. Mechanical testing was carried out using a 100 kN Universal Tensile Testing Machine, and the microstructure was examined using an optical metallographic microscope. The tensile strength results for each cooling medium were: air cooling 1,500.172 N/mm², water 691.288 N/mm², oil 598.791 N/mm², salt water 633.394 N/mm², and banana-stem water 126.524 N/mm². The observed fracture mode was predominantly brittle fracture. Microstructural observations revealed the presence of ferrite, pearlite, cementite, and martensite. The analysis indicates that the brittleness and ductility of the steel are strongly influenced by the resulting microstructure formed due to the applied heat-treatment conditions.
Copyrights © 2026