Kehadiran Satuan Pengamanan (Satpam) di sekolah sering kali hanya dimaknai sebagai penjaga pintu masuk. Padahal, tanggung jawab sosial yang mereka pikul jauh melampaui fungsi teknis semacam itu. Kajian ini menyoroti bagaimana Satpam berperan secara sosial dalam menumbuhkan rasa aman pada peserta didik di Yayasan Darul Furqon. Titik tolaknya adalah catatan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah periode 2025–2026 yang menyebutkan bahwa 34,7% insiden keamanan di sekolah swasta berakar dari lemahnya sistem pengamanan internal. Peneliti memilih metode kualitatif dengan rancangan studi kasus yang bersifat deskriptif sekaligus interpretatif, dan kerja lapangan dijalankan sepanjang Januari sampai Mei 2026. Pengumpulan data ditempuh lewat wawancara semiterstruktur, pengamatan langsung di lokasi, serta penelusuran dokumen, dengan melibatkan lima informan yang ditentukan secara purposive, yakni dua Satpam aktif, kepala sekolah, satu guru senior, dan seorang peserta didik. Untuk mengolah data, peneliti menerapkan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang bergerak melalui kondensasi data, penyajian data, hingga penarikan serta verifikasi simpulan. Triangulasi sumber dan triangulasi teknik dipakai untuk menjaga keabsahan temuan. Kerangka analisis utamanya bersandar pada Teori Peran milik Ralph Linton dan George Herbert Mead, terutama gagasan expected role, enacted role, dan role-taking. Hasil kajian memperlihatkan enacted role kedua Satpam secara ajeg berada di atas expected role formal yang digariskan yayasan. Buktinya tampak pada anjloknya kasus orang asing yang masuk tanpa izin sampai 70% dan keberhasilan mereka meredam 74% kejadian tanpa perlu melapor ke pimpinan. Kematangan role-taking membuat Satpam mampu merajut kedekatan emosional, sehingga peserta didik sungguh-sungguh merasa terlindungi alih-alih sekadar dijaga secara fisik. Nilai-nilai keislaman yayasan pun terbukti meresap dalam cara Satpam menunaikan kedua dimensi peran itu pada keseharian mereka.
Copyrights © 2026