Fenomena perundungan (bullying) pada remaja awal di tingkat sekolah menengah pertama terus mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan dan mengancam perkembangan kesehatan emosional siswa. Ketidakmampuan remaja dalam melakukan regulasi emosi serta kurangnya penerimaan diri ditengarai menjadi faktor internal yang meningkatkan kerentanan mereka menjadi sasaran perundungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-compassion dengan kecenderungan menjadi korban bullying pada remaja di SMP Negeri 2 Tenggarang Bondowoso. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII yang berjumlah 201 siswa, dengan sampel sebanyak 135 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner skala Self-Compassion Scale (SCS) dan Revised Olweus Victim Questionnaire (ROVQ) yang telah dimodifikasi. Hasil uji Spearman Rank Rho menunjukkan adanya hubungan negatif yang kuat dan signifikan antara self-compassion dengan kecenderungan menjadi korban bullying (r = -0,739; p < 0,001). Semakin tinggi tingkat belas kasih dan penerimaan positif terhadap diri sendiri, maka semakin rendah tingkat kecenderungan remaja untuk menjadi korban perundungan di sekolah. Dapat disimpulkan bahwa self-compassion berfungsi sebagai mekanisme koping adaptif internal yang efektif mengurangi risiko perundungan pada remaja.
Copyrights © 2026