Perilaku penggunaan antibiotik yang tidak sesuai, seperti memperoleh antibiotik tanpa resep dokter, menghentikan penggunaan sebelum waktunya, serta menggunakan antibiotik untuk penyakit yang tidak memerlukan terapi antibiotik, masih sering ditemukan di masyarakat. Permasalahan ini juga terjadi di wilayah pedesaan seperti Desa Mantren, Kabupaten Magetan, yang diduga berkaitan dengan keterbatasan pengetahuan masyarakat mengenai fungsi, indikasi, serta cara penggunaan antibiotik yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan masyarakat dengan perilaku penggunaan antibiotik di Desa Mantren, Kabupaten Magetan. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 100 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dan dipilih berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas, meliputi kuesioner tingkat pengetahuan dan perilaku penggunaan antibiotik. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat mengenai antibiotik sebagian besar berada pada kategori baik (42%), sedangkan perilaku penggunaan antibiotik didominasi oleh kategori cukup (66%). Hasil uji Spearman Rank menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan perilaku penggunaan antibiotik (p = 0,560; r = 0,059). Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan tidak selalu diikuti dengan perubahan perilaku penggunaan antibiotik, sehingga diperlukan intervensi lain seperti edukasi berkelanjutan dan pengawasan penggunaan antibiotik di masyarakat.
Copyrights © 2026