Diare masih menjadi penyebab utama morbiditas di negara berkembang dan berkaitan erat dengan permasalahan kesehatan lingkungan, khususnya kualitas air dan sanitasi. Permukiman padat penduduk memiliki risiko tinggi terhadap penularan penyakit berbasis air akibat keterbatasan akses air bersih, sanitasi yang tidak memadai, serta tingginya kontaminasi feses di lingkungan. Kondisi tersebut diperburuk oleh saluran pembuangan terbuka, pengelolaan limbah yang buruk, dan rendahnya perilaku higiene masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kualitas air dan sanitasi dengan kejadian diare melalui tinjauan literatur terhadap berbagai studi empiris yang dipublikasikan pada tahun 2018–2025. Metode penelitian menggunakan pendekatan literature review dengan penelusuran artikel pada basis data PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar menggunakan kata kunci terkait kualitas air, sanitasi, dan diare. Artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan, kemudian dianalisis secara naratif. Sebanyak enam artikel memenuhi kriteria dan dianalisis lebih lanjut. Hasil kajian menunjukkan bahwa kadar Escherichia coli yang melebihi 0 CFU/100 mL, tingginya tingkat kekeruhan air, rendahnya kadar klorin residu, serta tidak tersedianya jamban sehat berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko diare dengan nilai OR berkisar antara 1,8–4,7. Selain itu, perilaku higiene yang buruk dan kondisi lingkungan permukiman yang padat turut memperkuat jalur penularan fekal–oral. Disimpulkan bahwa peningkatan akses air bersih, penyediaan sanitasi layak, dan promosi perilaku hidup bersih dan sehat merupakan intervensi penting dalam upaya menurunkan kejadian diare secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026