Kehamilan pada pasien dengan penyakit serebrovaskular seperti penyakit moyamoya, merupakan kondisi berisiko tinggi yang memerlukan penatalaksanaan multidisiplin. Pasien wanita usia 36 tahun, G3P2A0, usia kehamilan 22 minggu, datang ke IGD dengan keluhan perut terasa kencang dan keram sejak subuh. Riwayat obstetri anak pertama lahir spontan tahun 2010 dan anak kedua dengan sectio caesarea tahun 2012. Pasien memiliki komorbiditas penyakit moyamoya dan telah menjalani operasi revaskularisasi pada Maret 2025. Pemeriksaan fisik dalam batas normal tanpa defisit neurologis. Pemeriksaan obstetri tinggi fundus sesuai usia kehamilan dan terdapat his. Ultrasonografi menunjukkan kehamilan tunggal intrauterin 22 minggu, janin hidup dengan denyut jantung 120 kali per menit, taksiran berat 500 gram, plasenta posterior, dan cairan ketuban cukup. Mempertimbangkan risiko maternal, dilakukan tindakan sectio caesarea disertai tubektomi bilateral. Bayi lahir dengan berat 500 gram dan meninggal 10 menit pascakelahiran. Kondisi ibu pascaoperasi stabil dan pemulihan berjalan baik. Kehamilan dengan penyakit moyamoya meningkatkan risiko komplikasi neurologis akibat perubahan tekanan darah selama kehamilan dan persalinan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa revaskularisasi sebelum atau selama kehamilan dapat menurunkan risiko kejadian serebrovaskular, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko tersebut dan sectio caesarea sering dipilih untuk menghindari lonjakan tekanan intrakranial akibat mengejan. Pada kasus ini, riwayat revaskularisasi, usia maternal lanjut, kontraksi aktif usia 22 minggu, dan potensi risiko perdarahan serebral menjadi dasar pertimbangan terminasi operatif disertai sterilisasi definitif. Pada usia gestasi previabel dengan risiko maternal tinggi, keselamatan ibu menjadi prioritas utama dalam pengambilan keputusan klinis. Penatalaksanaan yang tepat dan pemantauan ketat pascaoperasi berperan penting dalam mencapai luaran maternal yang optimal.
Copyrights © 2026