Krisis ekologi global semakin mengkhawatirkan akibat eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam, yang ditandai dengan kerusakan hutan, krisis air, dan degradasi wilayah pesisir. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya merusak keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem, tetapi juga memengaruhi kondisi sosial-ekonomi masyarakat serta memperparah ketimpangan antargenerasi. Selain itu, paradigma antroposentris yang berkembang, baik dalam praktik ekonomi maupun pemahaman teologis, turut menjadi faktor pendorong eksploitasi yang tidak berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran manusia sebagai imam terhadap alam sebagai solusi atas krisis ekologi, dengan menelaah kembali pemahaman teologis terhadap Kejadian 1:28, khususnya pada kata kavasy dan rada. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis literatur dan kajian ekoteologi, yang berfokus pada penafsiran teks Alkitab secara kontekstual dan simbolis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan tafsir terhadap Kejadian 1:28 telah melanggengkan paradigma antroposentris yang melegitimasi eksploitasi alam. Penafsiran ulang melalui pendekatan ekoteologi mengungkapkan bahwa manusia dipanggil sebagai imam yang bertanggung jawab menjaga dan merawat ciptaan, bukan mengeksploitasinya. Kesimpulannya, reinterpretasi teologis terhadap Kejadian 1:28 melalui perspektif ekoteologi dapat menjadi landasan etis dan spiritual dalam mendorong pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan serta meminimalisasi krisis ekologi.
Copyrights © 2026