Abstrak Kawasan permukiman di sekitar TPA Benowo Surabaya menghadapi polusi gas metana, bau, dan pencemaran air lindi yang menurunkan kualitas hidup. Penelitian studi kasus ini bertujuan merancang hunian residensial yang adaptif dan resilien terhadap polusi melalui pendekatan eco-settlement. Metode perancangan meliputi analisis tapak makro-mikro, restrukturisasi ruang, dan zonasi vegetatif. Hasil desain menunjukkan alokasi Ruang Terbuka Hijau minimal 30% sebagai filter vegetatif, ventilasi silang, dan pemanenan air hujan mampu mereduksi polutan serta mengurangi ketergantungan air tanah hingga 30%. Kesimpulannya, intervensi arsitektural spesifik dapat mentransformasi lahan marginal menjadi hunian layak. Implikasinya, studi ini menawarkan model public housing berkelanjutan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di wilayah berisiko tinggi. Karakteristik subjek menyoroti permukiman peri-urban dekat infrastruktur limbah. Keaslian solusinya terletak pada metabolisme kawasan sirkular sebagai filter ekologis aktif. Penelitian ini memunculkan pertanyaan teoretis terkait keberlanjutan jangka panjang utilitas mandiri di kawasan marginal.
Copyrights © 2026