Diplomasi iklim Australia sebagai middle power di kawasan Indo-Pasifik menunjukkan kontradiksi antara komitmen normatif terhadap perubahan iklim dan ketergantungan ekonomi pada energi fosil. Urgensi isu ini semakin meningkat seiring berkembangnya perubahan iklim sebagai agenda strategis global sekaligus arena persaingan geopolitik di kawasan Pasifik. Analisis dilakukan untuk memahami praktik diplomasi iklim Australia serta implikasi dari ketergantungan energi fosil terhadap kredibilitasnya sebagai middle power. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif-analitis berbasis studi literatur. Hasil menunjukkan bahwa keterlibatan aktif Australia dalam kerja sama iklim dan bantuan regional tidak sepenuhnya diimbangi oleh konsistensi kebijakan domestik, khususnya dalam ekspor batu bara. Kondisi ini menciptakan disonansi antara retorika dan praktik kebijakan yang berdampak pada melemahnya legitimasi normatif dan efektivitas diplomasi iklim Australia di tengah persaingan pengaruh di kawasan Pasifik.
Copyrights © 2026