Abstrak Praktik pembatasan hak bicara dan manipulasi wacana oleh otoritas kekuasaan, berpotensi merusak tatanan demokrasi serta mendistorsi ruang publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap distorsi komunikasi dalam novel Bungkam Suara Karya J.S. Khairen sebagai refleksi realitas sosial, yang memotret kekacauan ruang publik akibat propaganda dari penguasa. Metode kualitatif deskriptif dalam penelitian ini berfokus pada narasi, deskripsi, dan interpretasi seluruh tindakan komunikatif para tokoh berdasarkan kajian demokrasi deliberatif Jürgen Habermas. Teknik simak dan catat dalam penelitian ini digunakan untuk pengumpulan data dalam bentuk kata, frasa, maupun kalimat yang diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu fakta pembatasan hak bicara, bentuk distorsi komunikasi, dan pelanggaran klaim validitas Habermas (kebenaran, ketepatan, dan kejujuran). Data yang telah diklasifikasikan kemudian dianalisis dengan cara menginterpretasi data, membenturkan fakta, dan mengungkap dampak dari penyimpangan komunikasi tokoh. Hasil penelitian ini, yaitu (1) pembatasan hak bicara warga dilakukan melalui pengawasan digital dengan ketat, bukan kekerasan fisik, (2) distorsi komunikasi dijalankan secara masif dengan operasi propaganda digital untuk menumpulkan kritis warga, dan (3) manipulasi tersebut berujung pada pelanggaran tiga klaim validitas Habermas secara mutlak yang merefleksikan matinya demokrasi deliberatif.
Copyrights © 2026