Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pemaknaan Kata ‘Babi’ dalam Pendidikan Masyarakat Kontemporer (Studi Semiotika Novel Jakarta Sebelum Pagi) Meychel Salsabyla; Putri Retnosari
FOUNDASIA Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v17i1.98112

Abstract

This study aims to discover the essence of the meaning of the word Babi, which represents a symbol of human attitudes in the world and is represented in the novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. The analysis is conducted through a study of Roland Barthes' semiotic theory which includes denotation, connotation, and myth. In addition, this research is motivated by the various meanings formed from the use of the word Babi in the novel, as well as the social myths that emerge behind the word Babi. The method used is descriptive qualitative with reading, note-taking, data reduction, and theory triangulation techniques. The results of the study show that the word Babi does not only function as a curse or animal name, but forms a social classification system consisting of nine categories, namely yan pi, babi bakar, babi steril, babi kacung, babi rakyat, babi aristocrat, babi Animal Farm, babi jahanam, and babirusa. Each category represents a certain social position in urban life in Jakarta. At the myth level, the sign system shows how social inequality is considered something normal in everyday life. This research also found that the meaning of the word Babi is constructed through cross-media references, ranging from Japanese manga to George Orwell's novel Animal Farm..
Khadijah’s feminism and polygamy in cinema: A re-examination of gender equality in Islam and Indonesian film Ririe Rengganis; Putri Retnosari; M. Erwan Saing
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026): In Progress
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.v8i1.22537

Abstract

Research on polygamy in Indonesian cinema has largely been dominated by Western feminist perspectives and moral-sociological approaches, often overlooking the progressive theological dimensions embedded within Islamic teachings. Yet Islam offers the exemplary figure of Khadijah Ra. bint Khuwaylid, whose life embodies ethical leadership, economic autonomy, and gender justice. This study formulates the concept of “Khadijah Feminism” as a theological-ethical framework and examines the representation of women and polygamy in four Indonesian films: Berbagi Suami (2006), Surga yang Tak Dirindukan (2015), Madu Murni (2023), and 1 Imam 2 Makmum (2025). Employing Fairclough’s Critical Discourse Analysis, the research integrates textual-narrative analysis, cinematographic interpretation, and Islamic feminist hermeneutics through the ethical lens of Khadijah. The findings demonstrate that most films continue to reproduce patriarchal religious discourses by portraying women’s patience and obedience as the primary indicators of piety while marginalizing Khadijah’s model of agency, justice, and moral leadership. In contrast, Madu Murni and Berbagi Suami present female protagonists who challenge patriarchal norms through economic independence, ethical reasoning, and resistance to injustice. Furthermore, polygamy is predominantly represented as a male privilege rather than as a morally accountable institution constrained by the Qur'anic principles of justice articulated in An-Nisa (4):3 and (4):129. This study contributes to Islamic feminist scholarship by introducing “Khadijah Feminism” as an alternative analytical framework that integrates faith, gender equality, and spiritual agency, while recommending more theologically grounded and ethically responsible representations of Muslim women in contemporary Indonesian cinema.
Minang Identity in Indonesian Literary Works 2008-2025 (Anthropocentrism Study) Putri Retnosari; Parmin; Moh Arif Susanto; Destynar Aditama; Ririe Rengganis; Agusniar Dian Savitri; Dianita Indrawati; Rakmat Faisal; Yermia Nugroho Agung Wibowo
Proceeding of Conference on Literature, Linguistic, and Cultural Studies Vol. 5 No. 1 (2026): Proceeding of Conference on Literature, Linguistic, and Cultural Studies: ICONE
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/pcllcs.v5i1.6572

Abstract

This study aims to explore the construction and transformation of Minangkabau identity in Indonesian literary works published between 2008 and 2025. Using an anthroposentric literary approach, the research investigates how human-centered cultural values, norms, and beliefs associated with Minangkabau ethnicity are narrated, challenged, or maintained in contemporary fiction. The analysis focuses on selected novels and short stories written by both Minangkabau and non-Minangkabau authors, identifying recurring themes such as adat, migration, gender roles, and intergenerational conflict. The method combines textual interpretation with cultural contextualization to uncover how literature reflects or reconfigures the image of Minang identity in response to changing national and global contexts. The results reveal that while many works reaffirm traditional Minangkabau values, others offer critical perspectives that depict internal tensions and evolving identities, especially among younger generations. The study shows that Minang identity in literature is dynamic, marked by a constant negotiation between heritage and modernity.
Eksistensi Perempuan Jawa pada Serat Wasita Dyah Utama: Kajian Semiotika Kritis Eco Putri Retnosari; Endah Imawati
FOUNDASIA Vol. 16 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v16i2.97549

Abstract

Figur perempuan Jawa dinilai sebagai sosok yang lemah, dibuktikan melalui beberapa serat Jawa yang mendeskripsikan tentang perempuan. Perempuan dengan segala dimensinya menarik untuk diteliti, karena berkaitan dengan pandangan publik. Sejalan dengan hal tersebut, perempuan Jawa lebih nyata praktis daripada laki-laki yang berhenti pada ideologi. Penelitian ini akan memperkaya pengetahuan baru terhadap nilai ajaran perempuan Jawa, dengan demikian dapat ditemukan beragam keistimewaan dalam diri perempuan Jawa. Alasan lain bahwa perempuan Jawa menarik untuk diteliti karena perempuan Jawa dituntut untuk jeli dalam bersiasat menghadapi tata krama yang terkadang menjadi “jerat budaya”. Artinya, hal itu menunjukan bahwa perempuan Jawa memiliki kemampuan dalam melihat sumber konflik, selanjutnya mengembalikan kepada yang berkuasa untuk menjawab “sendiri” permasalahannya. Dengan demikian, penelitian ini memberikan pandangan baru tentang perempuan Jawa dari ajaran yang terdapat dalam serat. Salah satunya, dalam serat Wasita Dyah Utama yang mengajarkan ajaran dasar tentang perempuan Jawa. Melalui pendidikan dasar untuk perempuan Jawa dapat ditemukan makna keistimewaan dari perempuan Jawa
DISTORSI KOMUNIKASI DALAM NOVEL BUNGKAM SUARA: KAJIAN DEMOKRASI DELIBERATIF JÜRGEN HABERMAS Moch. Nur Riza Pratama Nugroho; Putri Retnosari
Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Vol. 16 No. 2 (2026): Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Praktik pembatasan hak bicara dan manipulasi wacana oleh otoritas kekuasaan, berpotensi merusak tatanan demokrasi serta mendistorsi ruang publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap distorsi komunikasi dalam novel Bungkam Suara Karya J.S. Khairen sebagai refleksi realitas sosial, yang memotret kekacauan ruang publik akibat propaganda dari penguasa. Metode kualitatif deskriptif dalam penelitian ini berfokus pada narasi, deskripsi, dan interpretasi seluruh tindakan komunikatif para tokoh berdasarkan kajian demokrasi deliberatif Jürgen Habermas. Teknik simak dan catat dalam penelitian ini digunakan untuk pengumpulan data dalam bentuk kata, frasa, maupun kalimat yang diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu fakta pembatasan hak bicara, bentuk distorsi komunikasi, dan pelanggaran klaim validitas Habermas (kebenaran, ketepatan, dan kejujuran). Data yang telah diklasifikasikan kemudian dianalisis dengan cara menginterpretasi data, membenturkan fakta, dan mengungkap dampak dari penyimpangan komunikasi tokoh. Hasil penelitian ini, yaitu (1) pembatasan hak bicara warga dilakukan melalui pengawasan digital dengan ketat, bukan kekerasan fisik, (2) distorsi komunikasi dijalankan secara masif dengan operasi propaganda digital untuk menumpulkan kritis warga, dan (3) manipulasi tersebut berujung pada pelanggaran tiga klaim validitas Habermas secara mutlak yang merefleksikan matinya demokrasi deliberatif.