Beton menjadi pilihan utama dalam proyek konstruksi karena ketersediaan material penyusunnya dan kapasitas tekan yang tinggi. Meski demikian, tingkat mutu beton tidak terlepas dari pengaruh sifat fisis agregat halus yang digunakan. Penelitian ini bertujuan membandingkan pengaruh pasir Cimalaka (Sumedang) dan pasir Merapi (Klaten) terhadap kekuatan tekan beton normal dengan target mutu 25 MPa. Prosedur penelitian dilakukan berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), dimulai dari pengujian karakteristik agregat halus yang meliputi analisis gradasi, berat jenis, kadar lumpur, dan kadar organik, kemudian dilanjutkan dengan perencanaan campuran beton, uji slump, serta pengujian kuat tekan. Pengujian menggunakan spesimen silinder berukuran 15 × 30 cm sebanyak 24 sampel, dengan masing-masing variasi agregat halus terdiri atas 12 spesimen. Pengamatan kuat tekan dilakukan pada umur 7, 14, 21, dan 28 hari. Hasil olah data mengindikasikan bahwa pasir Merapi menghasilkan kuat tekan lebih tinggi dibandingkan pasir Cimalaka pada seluruh umur pengujian. Pada umur 28 hari, beton dengan pasir Merapi mencapai 28,97 MPa, sedangkan beton dengan pasir Cimalaka mencapai 25,57 MPa. Meskipun menghasilkan kuat tekan yang lebih rendah, pasir Cimalaka tetap layak digunakan sebagai agregat halus karena masih memenuhi target mutu beton normal sebesar 25 MPa.
Copyrights © 2026