Navigasi pada alur pelayaran sempit menuntut kewaspadaan situasional yang tinggi serta koordinasi yang selaras antara awak kapal dan pandu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis optimalisasi olah gerak kapal MT Aerosea Catalina dalam mencegah tubrukan pada alur sempit dan berkepadatan tinggi di Sungai Barito, Banjarmasin. Dengan menerapkan metode deskriptif kualitatif berbasis praktik, data dihimpun melalui observasi langsung di anjungan selama dinas jaga navigasi, wawancara terstruktur dengan Nakhoda dan pandu, serta analisis dokumentasi instrumen anjungan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kejadian nyaris tubrukan (near-miss) yang terjadi pada tanggal 2 Oktober 2024 utamanya dipicu oleh perbedaan penilaian situasi serta putusnya komunikasi antara pandu dan Nakhoda pada saat manuver menyalip yang kritis. Kendala lingkungan, seperti arus melintang yang kuat dan lebar alur yang terbatas, semakin memperberat risiko navigasi dengan menimbulkan sudut hanyut (drift angle) yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa optimalisasi pencegahan tubrukan pada alur sempit memerlukan kepatuhan yang ketat terhadap COLREGs (khususnya Aturan 6 dan 9), verifikasi silang yang cermat terhadap data instrumen (AIS, Radar, dan ECDIS), serta penerapan aktif prinsip Bridge Resource Management (BRM), khususnya prosedur “challenge and response”. Kata Kunci: bridge resource management (brm), colregs, olah gerak kapal, pencegahan tubrukan, alur sempit
Copyrights © 2026