Pemulung merupakan aktor penting dalam sistem daur ulang perkotaan, namun praktik kerja mereka masih sering dipahami hanya dari perspektif kerentanan ekonomi dan sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana otonomi, solidaritas, dan strategi ekonomi membentuk praktik kerja pemulung di TPA Tamangapa, Makassar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus instrumental. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap tujuh informan, observasi partisipan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik menggunakan perangkat lunak ATLAS.ti versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemulung memiliki otonomi dalam menentukan waktu dan lokasi kerja tanpa intervensi formal, serta membangun solidaritas melalui bantuan fisik, berbagi informasi, berbagi sumber daya, dan pemanfaatan gubuk sebagai ruang kolektif. Pengetahuan mengenai jenis, nilai, dan rantai pasok material daur ulang menjadi dasar penyusunan strategi jual-simpan dalam menghadapi fluktuasi harga. Sistem panjar dan nota berfungsi sebagai mekanisme perlindungan ekonomi ketika kebutuhan mendesak muncul, namun pada saat yang sama menciptakan ketergantungan terhadap pengepul. Diversifikasi nafkah juga dilakukan sebagai strategi bertahan ketika pendapatan dari memulung tidak mencukupi. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik kerja pemulung tidak hanya didasarkan pada rasionalitas ekonomi, tetapi juga pada relasi sosial, produksi ruang, dan ekonomi moral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa otonomi dan solidaritas menjadi sumber ketahanan pemulung, meskipun tetap dibatasi oleh ketergantungan struktural dalam rantai ekonomi informal.
Copyrights © 2026