Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk komunikasi persuasif yang diterapkan oleh ibu dalam menanamkan nilai-nilai akhlak kepada anak pada penggunaan media sosial di Kampung Tanjung Ciparay. Perkembangan media sosial yang semakin pesat telah memberikan berbagai peluang sekaligus tantangan bagi proses pembentukan karakter anak. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi sarana memperoleh informasi, memperluas wawasan, dan membangun interaksi sosial. Namun, di sisi lain, penggunaan yang tidak terkontrol berpotensi menimbulkan dampak negatif, seperti menurunnya kontrol diri, penggunaan bahasa yang tidak santun, penyebaran informasi yang tidak tepat, serta paparan terhadap perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral. Oleh karena itu, peran ibu sebagai figur yang memiliki kedekatan emosional dengan anak menjadi sangat penting dalam memberikan pendampingan dan pengawasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive, yaitu ibu yang memiliki anak usia 10–15 tahun dan aktif menggunakan media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi persuasif dilakukan melalui pola dialogis, pemberian nasihat, diskusi dua arah, pengawasan, dan keteladanan. Teknik asosiasi digunakan dengan menghubungkan pesan moral pada pengalaman sehari-hari anak, sedangkan teknik fear arousing diterapkan untuk meningkatkan kesadaran terhadap risiko cyberbullying, penyalahgunaan informasi, dan kecanduan media sosial. Penelitian ini juga menemukan hambatan komunikasi yang meliputi faktor sosiologis, psikologis, dan semantik. Temuan tersebut menegaskan bahwa kemampuan ibu dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital menjadi faktor penting dalam keberhasilan penanaman nilai-nilai akhlak sehingga anak mampu menggunakan media sosial secara bijak, bertanggung jawab, dan sesuai dengan norma sosial maupun agama.
Copyrights © 2026