Transformasi digital di lingkungan kerja telah meningkatkan penggunaan teknologi dalam aktivitas profesional sehari-hari, sehingga menciptakan tuntutan baru yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis karyawan. Kondisi kerja modern ditandai oleh intensifikasi penggunaan teknologi, budaya kerja yang selalu terhubung, serta ekspektasi ketersediaan digital yang tinggi. Di tengah kondisi tersebut, Digital Well-Being menjadi aspek penting yang mencerminkan kemampuan individu mempertahankan kesejahteraan subjektifnya dalam berinteraksi dengan teknologi digital. Salah satu faktor psikologis yang diduga berperan dalam membentuk Digital Well-Being adalah Impostor Syndrome, yaitu keyakinan bahwa diri tidak sekompeten sebagaimana dipersepsikan orang lain dan disertai ketakutan bahwa kekurangan tersebut akan terungkap. Meskipun berbagai penelitian telah menghubungkan penggunaan teknologi dengan munculnya perasaan impostor, literatur yang ada masih terbatas dalam menjelaskan peran Impostor Syndrome sebagai prediktor yang memengaruhi kesejahteraan digital karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran Impostor Syndrome terhadap Digital Well-Being pada karyawan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif prediktif dengan melibatkan 207 karyawan yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Digital Well-Being diukur menggunakan Digital Well-Being Scale (DWBS) yang dikembangkan oleh Arslankara et al. (2022), sedangkan Impostor Syndrome diukur menggunakan Impostor Profile 30 (IPP30) adaptasi Fahlevi et al. (2025). Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana dengan bantuan perangkat lunak JASP. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan kajian psikologi kerja digital serta menjadi dasar bagi organisasi dalam merancang strategi peningkatan kesejahteraan karyawan di era transformasi digital yang semakin berkembang dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026