Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada abad ke-21 telah membawa transformasi signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga interaksi sosial. Kemampuan AI dalam mengolah data, mengambil keputusan, dan menjalankan fungsi-fungsi yang sebelumnya hanya dapat dilakukan manusia menimbulkan berbagai peluang sekaligus tantangan etis. Di tengah perkembangan tersebut, muncul pertanyaan filosofis mengenai hakikat manusia, kesadaran, kebebasan, serta tanggung jawab moral dalam era teknologi yang semakin otonom. Dalam perspektif filsafat Islam, akal (‘aql) tidak hanya dipahami sebagai alat berpikir rasional, tetapi juga sebagai anugerah Ilahi yang memungkinkan manusia memahami kebenaran, membedakan baik dan buruk, serta menjalankan tugas kekhalifahan di bumi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relasi antara akal, moralitas, dan perkembangan teknologi modern, khususnya AI, melalui perspektif filsafat Islam. Metode yang digunakan adalah library research dengan pendekatan kualitatif-filosofis melalui telaah kritis terhadap pemikiran para filosof Muslim klasik, seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan al-Ghazali, serta pemikir kontemporer, seperti Seyyed Hossein Nasr dan Osman Bakar. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi, termasuk AI, tidak dapat dipandang sebagai instrumen yang sepenuhnya netral karena penggunaannya selalu berkaitan dengan nilai, tujuan, dan orientasi moral tertentu. Dalam kerangka filsafat Islam, pengembangan dan pemanfaatan AI harus berlandaskan nilai tauhid, keadilan, tanggung jawab, dan kemaslahatan. Oleh karena itu, etika AI dalam Islam menekankan integrasi antara rasionalitas dan spiritualitas agar teknologi dapat mendukung kesejahteraan manusia tanpa mengabaikan dimensi moral dan kemanusiaannya.
Copyrights © 2026