Aset tetap merupakan salah satu komponen terbesar dalam struktur kekayaan rumah sakit yang meliputi bangunan, peralatan medis, kendaraan operasional, instalasi penunjang, dan sarana pelayanan kesehatan lainnya. Pengelolaan aset tetap yang tepat sangat penting karena memengaruhi penyajian laporan keuangan, pengukuran kinerja organisasi, serta perhitungan kewajiban perpajakan. Salah satu aspek utama dalam pengelolaan aset tetap adalah kebijakan depresiasi yang digunakan untuk mengalokasikan biaya perolehan aset selama masa manfaatnya. Dalam praktiknya, rumah sakit menghadapi perbedaan perlakuan depresiasi antara standar akuntansi komersial dan ketentuan fiskal perpajakan yang berpotensi menimbulkan perbedaan laba dan koreksi fiskal. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi kebijakan depresiasi aset tetap rumah sakit melalui pendekatan komparatif antara aspek akuntansi komersial dan fiskal. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan menganalisis jurnal ilmiah, standar akuntansi, regulasi perpajakan, dan dokumen kebijakan yang diterbitkan pada periode 2016–2026. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode garis lurus merupakan metode depresiasi yang paling banyak digunakan karena sederhana dan menghasilkan pelaporan keuangan yang stabil. Metode saldo menurun diterapkan pada beberapa aset teknologi tinggi, sedangkan metode unit produksi digunakan secara terbatas pada aset dengan tingkat penggunaan yang dapat diukur. Perbedaan perlakuan depresiasi komersial dan fiskal menimbulkan beda temporer, koreksi fiskal, serta pengakuan pajak tangguhan. Oleh karena itu, kebijakan depresiasi aset tetap rumah sakit perlu dirancang secara adaptif, transparan, dan terintegrasi guna mendukung kualitas pelaporan keuangan serta kepatuhan perpajakan.
Copyrights © 2026