Transformasi digital rumah sakit menghadirkan tantangan organisasional yang melampaui implementasi teknis. Meskipun teori manajemen perubahan menawarkan tahapan transisi yang terstruktur, pemahaman mengenai bagaimana staf rumah sakit mengalami, memaknai, dan merespons perubahan dalam praktik sehari-hari masih terbatas di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman staf selama implementasi rekam medis elektronik (RME), khususnya terkait kepemimpinan, komunikasi, dan resistensi. Penelitian menggunakan desain studi kasus kualitatif pada sebuah rumah sakit umum swasta di Jawa Barat. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur terhadap sembilan informan yang dipilih secara purposif, meliputi manajemen puncak, manajemen menengah, dokter, perawat, dan staf administrasi, serta dilengkapi observasi non-partisipan dan kajian dokumen. Data dianalisis menggunakan enam tahap analisis tematik Braun dan Clarke, dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menemukan empat tema utama: kepemimpinan sebagai penentu legitimasi perubahan, kesenjangan komunikasi antarlapis manajemen, resistensi staf klinis akibat kekhawatiran beban kerja dan berkurangnya otonomi, serta dukungan informal antarsejawat sebagai fasilitator adopsi. Proses perubahan secara umum mencerminkan model delapan langkah Kotter, tetapi tahap institusionalisasi masih lemah. Beberapa informan melaporkan kembalinya praktik kerja informal ketika perhatian manajerial bergeser. Temuan ini memberikan kontribusi kontekstual dan implikasi praktis bagi manajer sumber daya manusia dalam merancang perubahan yang partisipatif, adaptif, dan berkelanjutan sesuai kebutuhan operasional dan klinis rumah sakit.
Copyrights © 2026