Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak work-life balance terhadap tingginya turnover intention karyawan Generasi Z pada perusahaan startup di Indonesia serta merumuskan strategi retensi yang sesuai dengan karakteristik tenaga kerja digital. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner daring berskala Likert kepada 200 karyawan Generasi Z berusia 18-27 tahun yang telah bekerja minimal enam bulan. Analisis dilakukan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling melalui SmartPLS 4 dan diperkaya dengan sintesis data industri serta penelitian terdahulu. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi meningkatkan stres kerja, kelelahan emosional, penurunan keterikatan, serta keinginan untuk meninggalkan organisasi. Fleksibilitas kerja tidak otomatis menurunkan turnover apabila tidak didukung batas komunikasi yang jelas, beban kerja yang wajar, dukungan atasan, kompensasi yang adil, dan peluang pengembangan karier. Employee engagement berperan penting dalam menjembatani pengaruh tekanan kerja terhadap intention to leave, sedangkan employer branding, psychological safety, penghargaan, dan pekerjaan yang bermakna memperkuat keputusan karyawan untuk bertahan. Temuan ini menegaskan bahwa strategi retensi Generasi Z perlu diterapkan secara terintegrasi melalui pengaturan beban kerja, kebijakan fleksibilitas berbasis hasil, dukungan kesehatan mental, kepemimpinan suportif, sistem total rewards, dan jalur karier yang transparan. Penelitian memberikan implikasi praktis bagi startup dalam membangun lingkungan kerja berkelanjutan tanpa mengurangi kecepatan inovasi dan pencapaian target bisnis.
Copyrights © 2026