Fase kritis pemulihan pascapersalinan atau masa (puerperium) merupakan fase kritis pemulihan pascapersalinan yang ditandai dengan perubahan fisik, hormonal, dan psikologis. Pada puerperium dini, perubahan tersebut dapat memicu kecemasan yang berpotensi menghambat pelepasan hormon oksitosin, mengganggu let-down reflex, serta menurunkan produksi ASI. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diberikan adalah pijat oksitosin, yang memiliki efek relaksasi sehingga diduga mampu menurunkan tingkat kecemasan ibu nifas. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian pijat oksitosin terhadap tingkat kecemasan pada ibu nifas hari ke-3 sampai ke-5 di PMB Mia Saputri, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Penelitian menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 ibu nifas yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran tingkat kecemasan dilakukan sebelum dan sesudah menggunakan baku kuesioner setelah dilakukan intervrensi. Analisis data dilakukan secara univariat dengan distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan Paired Samples T-Test (α = 0,05) setelah memenuhi uji normalitas Shapiro-Wilk. Hasil menunjukkan bahwa sebelum intervensiTingkat kecemasan sedang dialami oleh 53,3% responden, sementara 46,7% sisanya melaporkan tingkat kecemasan berat. dengan rerata skor 27,70. Setelah pemberian pijat oksitosin, 80,0% responden tidak mengalami kecemasan dan 20,0% mengalami kecemasan ringan dengan rerata skor menurun menjadi 12,67. Hasil uji Paired Samples T-Test menunjukkan nilai p < 0,001 (p < 0,05), sehingga terdapat pengaruh signifikan pemberian pijat oksitosin terhadap penurunan tingkat kecemasan pada ibu nifas. Pijat oksitosin sangat disarankan sebagai salahsatu teknik dari asuhan kebidanan komplementer pada masa nifas.
Copyrights © 2026