Dominasi WhatsApp Business dalam komunikasi bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menunjukkan bahwa adopsi teknologi tidak hanya ditentukan oleh keunggulan fitur, tetapi juga oleh kebiasaan, pengaruh sosial, dan ekosistem pelanggan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang membentuk resistensi adopsi Google Chat sebagai platform komunikasi penjualan pada UMKM business-to-business (B2B) di Bali. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Informan penelitian terdiri atas lima pelaku UMKM B2B di Bali yang menggunakan WhatsApp Business sebagai media komunikasi utama, mengetahui atau pernah mendengar Google Chat, tetapi belum menjadikannya sebagai platform utama dalam proses penjualan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi nonpartisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik dengan pendekatan deduktif dan interpretatif berdasarkan konstruk Technology Acceptance Model (TAM) dan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi terhadap Google Chat tidak terutama disebabkan oleh kesulitan penggunaan, keterbatasan perangkat, jaringan internet, atau rendahnya kepercayaan terhadap keamanan platform. Resistensi lebih kuat dipengaruhi oleh kebiasaan penggunaan WhatsApp Business, pengaruh pelanggan dan mitra bisnis, rendahnya urgensi untuk berpindah platform, serta persepsi manfaat Google Chat yang belum dirasakan secara langsung dalam proses penjualan. Faktor pengaruh sosial dan kebiasaan ditemukan lebih dominan dibandingkan hambatan teknis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa adopsi teknologi komunikasi pada UMKM bersifat selektif dan sosial-kontekstual. Pelaku usaha cenderung mempertahankan platform yang paling familiar, mudah digunakan, sesuai dengan kebutuhan operasional, dan telah digunakan secara luas dalam ekosistem pelanggan.
Copyrights © 2026