Kegiatan pengolahan dilakukan sebagai upaya pemanfaatan potensi kedelai melalui proses distribusi, serta penjualan tempe sebagai bagian dari aktivitas usaha. Banyak home industri yang menjalankan pengolahan tempe, namun belum menerapkan integrasi vertikal karena produk tersebut dapat langsung dipasarkan kepada konsumen akhir. Penentuan sampel dilakukan berdasarkan informasi yang diperoleh dari pedagang pengumpul kedelai, pedagang besar, serta para pelaku usaha dengan menggunkan Teknik Sampling sensus, responden pada penelitian ini yaitu seluruh pelaku rantai nilai pemasaran kacang kedelai. Cara menganalisis data dilakukan dengan pendekatan yang menjelaskan, baik dari segi kualitas maupun angka, terhadap jalur rantai nilai pemasaran kacang kedelai dan aliran pemasaran produk tempe. Sedangkan nilai tambah dianalisis menggunakan metode Hayami, sedangkan kinerja pemasaran produk tempe diukur berdasarkan marjin, tingkat keuntungan, dan efisiensi pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai nilai untuk pemasaran kedelai berjalan dalam satu jalur, dimulai dari pengumpul hingga konsumen, selanjutnya ke home industry, kemudian ke pedagang retail hingga sampai kepada konsumen akhir. Proses nilai tambah yang tercipta pada usaha home industri telah memberikan nilai tambah produk tempe senilai Rp235.068,-/kg. Kinerja pemasaran yang terbentuk dari produk tempe pada usaha home industri yakni home industri → retail → konsumen akhir, dan saluran pemasaran produk tempe dapat dikatakan telah efisien secara optimal.
Copyrights © 2026