Artikel ini melaporkan hasil penelitian tentang sirkuit legitimasi politik pangan rezim populis Prabowo Subianto periode 2024–2026 yang mengklaim akselerasi swasembada kilat di tengah trauma kegagalan historis proyek agraria skala besar. Melalui paradigma kritis model sosiokognitif Teun A. van Dijk yang diintegrasikan dengan teori ekonomi politik pangan, penelitian kualitatif ini mengomparasi teks wacana induk negara dengan pemberitaan Republika. Co.id, Kompas.com, dan Detik.com. Keabsahan hasil penelitian ditunjukkan dengan menggunakan prinsip historical situatedness makroglobal, yaitu mencocokkan temuan penelitian dengan konteks historis yang berlaku sedangkan pada level teks dilakukan audit trail. Hasil penelitian membuktikan adanya penyederhanaan logika populis yang mereduksi ketahanan pangan menjadi swasembada beras statistikal. Hegemoni rezim mengalami pembelahan (fractured hegemony) akibat benturan material dengan dugaan anomali iklim ekstrem “El Nino Godzilla” dan geopolitik global. Implikasi teoretis riset ini melahirkan kebaruan konsep mengenai Mutasi Diskursif, yaitu kekuasaan populis sekuat apa pun pada akhirnya melunakkan janji hulu mereka demi tunduk pada batasan ekologis alam dan realitas ekonomi tingkat bawah.
Copyrights © 2026