Pemanfaatan people analytics memberikan peluang bagi organisasi untuk meningkatkan ketepatan keputusan sumber daya manusia melalui pengolahan data rekrutmen, kehadiran, kinerja, kompetensi, pembelajaran, dan retensi. Namun, penggunaan data karyawan juga menimbulkan risiko etis berupa pengumpulan data berlebihan, penggunaan data di luar tujuan awal, pengawasan yang intrusif, bias algoritmik, kebocoran data, serta berkurangnya otonomi karyawan. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana PT Wisata Dunia di Sidoarjo dapat menyeimbangkan kebutuhan keputusan berbasis data dengan pelindungan privasi karyawan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dalam bentuk studi kasus konseptual melalui kajian literatur, analisis regulasi, dan pemetaan tematik terhadap siklus data sumber daya manusia. Hasil analisis menunjukkan bahwa people analytics yang etis harus dibangun di atas tujuh prinsip, yaitu kejelasan tujuan, minimisasi data, transparansi, dasar pemrosesan yang sah, keadilan, pengawasan manusia, serta keamanan dan akuntabilitas. Penerapan prinsip tersebut memerlukan inventarisasi data, penilaian dampak etika dan privasi, pembatasan akses berbasis peran, pengujian bias, mekanisme keberatan, kebijakan retensi, serta audit berkala. Penelitian ini mengusulkan model tata kelola bertahap yang mengintegrasikan fungsi manajemen, sumber daya manusia, teknologi informasi, dan perwakilan karyawan. Dengan tata kelola tersebut, people analytics dapat menjadi sarana peningkatan kualitas keputusan tanpa mengubah data karyawan menjadi instrumen pengawasan yang tidak proporsional.
Copyrights © 2026