Menurunnya ketersediaan kayu berdiameter besar mengimbangi meningkatnya permintaan kayu untuk konstruksi dan industri berbasis kayu. Paraserianthes falcataria, atau kayu sengon, adalah jenis yang banyak dibudidayakan di Indonesia yang tumbuh dengan cepat. Namun, kerapatan dan kekuatan mekaniknya yang rendah menghalanginya untuk digunakan sebagai bahan struktural. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sifat fisika dan mekanika kayu sengon laminasi dipengaruhi oleh jumlah lapisan dan jenis perekat. Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor digunakan pada penelitian ini. Faktor-faktor tersebut meliputi jumlah lapisan (dua, tiga, atau empat lapisan) dan jenis perekat (polyvinyl acetate/PVAc atau polychloroprene/Fox). Kadar air, kerapatan, modulus elastisitas (MoE), modulus patah (MoR), dan keteguhan geser adalah beberapa parameter yang diamati. Nilai MoE kayu laminasi 32.632,40–42.144,14 kgf/cm2 dan nilai MoR 372,90–417,99 kgf/cm2. Kadar air kayu laminasi berkisar antara 14,87%–15,14%, menurut hasil penelitian. Kayu laminasi dua lapis dengan perekat PVAc memiliki keteguhan geser tertinggi (26,22 MPa). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa, meskipun jumlah lapisan dan jenis perekat tidak benar-benar memengaruhi sifat fisika, ada kecenderungan untuk meningkatkan kinerja mekanika. Hasilnya menunjukkan bahwa teknologi laminasi memiliki kemampuan untuk meningkatkan sifat mekanika kayu sengon dan memungkinkannya digunakan dalam konstruksi ringan dan produk kayu rekayasa.
Copyrights © 2026